Berita :: GLOBALPLANET.news

Penyerahan bibit produkti dari BPDASHL musi diserahkan secara simbolis oleh Direktur Jenderal PDAS-HL (kanan) kepada Rektor Universitas Sriwijaya Prof Dr Ir H Anis Saggaf untuk selanjutnya diserahkan kepada Direktur Pascasarjana Prof Dr Ir Amin Rejo (paling kiri) Kamis (21/3/2019). (Foto: Rachmad Kurniawan)

21 Maret 2019 14:29:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Direktur Jenderal Pengendalian Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (PDAS-HL) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Ida Bagus Putera Pratama, M.Sc memberi perhatian khusus pada upaya mempertahankan sumber daya air berkelanjutan. Hal ini menyangkut Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret tahun 2019.

Menurut Ida Bagus selaku narasumber dalam Seminar Nasional memperingati Hari Air Sedunia 2019 bertema "Leaving No One Behind" pengelolaan air berkelanjutan, bahwa pengelolaan air tidak hanya dilakukan dengan mengelola batang dan badan yang menampung air, seperti sungai dan danau namun dilakukan secara menyeluruh.

"Kita ini dikaruniai iklim dan air yang jumlahnya luar biasa tinggal bagaimana menjaganya supaya berkah. Hutan dan pohon-pohon sekitar rumah kita jaga air tersimpan menjadi mata air. Sehingga untuk mengelolanya harus secara keseluruhan seperti DAS yang menyebabkan air itu sendiri ada," papar Ida Bagus kepada Globalplanet di sela-sela Seminar Nasional Hari Air Sedunia 2019 di Pasca Sarjana Unsri, Kamis (21/3/2019).

Dalam region Sumatera sendiri kata dia, dari 3459 DAS yang ada di Sumatera sebanyak 288 yang sedang dalam pemulihan atau bisa dikatakan sedang dalam keadaan kritis.

"Di Palembang sendiri Sungai Musi salah satunya, secara umum sumber air yang sehat artinya dia bisa jadi regulator hidrologi, maksudnya yang bisa dijadikan persediaan air saat kemarau, menyediakan tatanan air, dan bisa menyelamatkan dari bencana. Itu relatif ya, Sungai Musi masih lebih oke dari DAS lain yang harus dipulihkan. Akan tetapi kita harus preventif dijadikan prioritas," bebernya.

Pihaknya berupaya untuk menjaga keseimbangan antara penghasilan air dan penggunaan air. Maka, ia meminta antara hulu sebagai sektor penghasil air dan hilir sebagai pengguna air harus berkoordinasi dalam merehabilitasi DAS.

"Baik antra KLHK selaku sektor hulu dan PUPR, ESDM, Pertanian, dan Pemda sebagai sektor hilir harus sama-sama ikut memaksimalkan tata kelola air agar pengelolaan air dapat terkendali secara seimbang," ujarnya.

Foto: Dr Ida Bagus Putera Pratama ketika menanam bibit pohon sebagai bentuk kepedulian terhadap tata kelola air, Kamis (21/3).

Selain itu, ia juga berharap kepada anak muda sebagai generasi yang mewarisi karunia air yang diberikan kepada bangsa kita untuk ikut aktif dan memerhatikan keberlangsungan tata kelola air, salah satunya dengan menanam pohon.

"Anak muda gak boleh acuh tak acuh harus ikut berpikir seakan-akan karunia gak ada lagi sehinhga yabg ada ikut memikirkan kelestarian," imbuhnya

Ia juga berharap masyarakat yang mempunyai lahan atau kebun, ikut menyelamatkan vegetasi. Dan tempat-tempat yang memiliki vegetasi jangan sampai terganggu kalau punya lahan sendiri dijadikan lahan yang bervegetasi.

"Langkah kecil tanam pohon satu orang. Bibit kita sediakan setiap tahun ada 1 juta tinggal ambil saja," tutupnya.

Seminar Nasional memperingati Hari Air Sedunia 2019 bertema "Leaving No One Behind" pengelolaan air berkelanjutan. Turut hadir pada seminar tersebut Prof dr Edvin Aldrian Professor Of Meterology BPPT Vice Chairmant of IPCC, Dr Ir Hari Suprayogi, M. Eng Dirjem Sumber daya air Kementerian PUPR, Walikota Palembang H Harnojoyo, dan Kepala Dinas PUPR Palembang Ahmad Bastari.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 276