Berita :: GLOBALPLANET.news

Suasana pabrik sawit. (Foto: Taufiq Akbar)

15 Agustus 2019 08:30:00 WIB

JAKARTA, GLOBALPLANET - Industri sawit mempunyai peranan besar terhadap perekonomian Indonesia, akan tetapi saat ini bisnis perkebunan sawit sedang mengalami kesulitan, karena harga CPO yang anjlok.

Pada krisis seperti saat ini, pemilik perkebunan kadang hanya panen buah tanpa melakukan perawatan dan pemupukan, hal inilah yang akan memperparah kondisi kebun.

“Harga komoditas bisa naik turun, sehingga pada situasi seperti ini kebun harus bijak dalam melakukan efisiensi agar produktivitasnya sustainable”, ujar Dr. Supeno Surija, Ph.D yang merupakan CEO dan Head of Research Plantation Key Technology (PKT) yang juga berpengalaman memimpin perkebunan selama puluhan tahun sebagaimana dilansir dari Info Sawit.

Karena jika kita tidak mempedulikan perawatan dan pemupukan, kedepannya produksi akan turun dan kondisi pohon akan semakin memburuk, dimana untuk memperbaikinya juga akan membutuhkan waktu. Sehingga saat harga telah stabil kembali, sering perkebunan tidak mendapatkan keuntungan maksimal dari momentum tersebut.

Pada saat seperti ini dapat dilakukan efisiensi dengan teknologi dari Plantation Key Technology (PKT) yaitu dengan cara penentuan formulasi pupuk MOAF® melalui tahapan deep research dan disesuaikan dengan target perkebunan, sehingga pupuk yang dipakai di kebun dapat memberikan hasil yang lebih baik dengan biaya yang lebih murah.

Selain harga sawit anjlok, penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh Ganoderma juga sebuah ancaman bagi perkebunan sawit. Jika pohon telah terinfeksi oleh Ganoderma tersebut, pohon akan tumbang lebih cepat. Seperti ungkapan “sudah jatuh, tertimpa tangga lagi”, sudah harga sawit anjlok, pohon juga berkurang. Sehingga kita juga perlu pencegahan dan pengendalian terhadap Ganoderma ini.

Selain teknologi mutakhir pupuk MOAF®, Plantation Key Technology (PKT) juga mempunyai penemuan CHIPS® yang merupakan vaksin pencegahan dan pengendalian Ganoderma satu-satunya yang pada tahun 2016 menerima penghargaan dari MURI.

Dengan beragam teknologi dan riset mendalam yang tanpa henti di bidang perkebunan sawit, PKT ini menjadi one stop solution bagi pekebun yang ingin melakukan efisiensi dan menaikkan produktivitas sampai dengan pengendalian hama penyakit mematikan.

Sebelum Penggunaan Teknologi PKT Kondisi Daun Terlihat warna daun hijau kekuningan dan kusam, serta mengering bahkan berpatahan. Lantas terdapat Basidiokarp Ganoderma pada pangkal batang pohon sawit sehingga penyerapan unsur hara menjadi terhambat. Daun Tombak terlihat akumulasi daun tombak yang tidak membuka.

Kondisi ini mengakibatkan Produksi Rendah, dimana perolehan produksi rendah dan banyak terdapat bunga jantan. Dalam sebuah studi kasus pohon yang seharusnya sudah direplanting, malah menghasilkan produksi rendah.

Misalnya seperti di daerah Jambi dengan jenis tanah PMK & Lempung Berpasir, dengan tahun tanam 2005, milik sebuah perusahaan perkebunan kelapa sawit swasta, pada bulan Maret 2016 kebun ini diketahui adanya infeksi Ganoderma, dimana terdapat basidiokarp Ganoderma pada pangkal batang, warna daun kuning dan terlihat akumulasi daun tombak yang tidak membuka, serta hasil produksi yang cukup rendah.

Setelah melalui proses analisa dan formulasi oleh PKT (Plantation Key Technology/Propadu Konair Tarahubun), maka pada bulan Mei 2016 diaplikasikan pupuk MOAF® untuk suplai unsur hara makro dan mikro, guna memperbaiki perkembangan vegetatif dan produksi tanaman, kemudian dilanjutkan dengan aplikasi CHIPS® 2.1 untuk pengendalian Ganoderma. Setelah 4 bulan aplikasi, serangan Ganoderma terkendali, dimana pertumbuhan akar baru telah membaik sehingga penyerapan hara menjadi lebih optimal.

Pengamatan terakhir pada April 2019, pohon yang diaplikasi secara rutin dengan MOAF® menunjukkan pertumbuhan vegetatif dan memiliki produksi yang lebih baik dibandingkan blok kontrol lainnya. Seperti yang ditunjukkan pada tabel, dapat dilihat perbandingan jumlah produksi yang sangat berbeda dengan pohon tanpa penggunaan MOAF® dan CHIPS®.

Reporter : Redaksi GlobalPLanet Editor : M.Rohali 47