Berita :: GLOBALPLANET.news

Kabid Layanan Informasi dan Kerjasama Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Agus Sutoyo (kanan baju merah) ketika meresmikan Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Rabu (4/9/2019) (Foto: Rachmad Kurniawan)

04 September 2019 14:49:30 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumsel bekerjasama dengan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno mengenalkan Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Gedung Perpustakaan Daerah Sumatera Selatan.

Kabid Layanan Informasi dan Kerjasama Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Agus Sutoyo mengatakan, keberadaan Perpustakaan ini bertujuan mengenang dan membagikan pemikiran proklamator Bung Karno yang merupakan bagian sejarah Indonesia yang tak bisa dilupakan.

"Perpustakaan Proklamator merupakan lembaga di bawah naungan Perpustakaan nasional yang menyimpan koleksi segala hal yang berkaitan dengan pemikiran Bung Karno yakni rasa nasionalisme dan kebangsaan. Ada 7000 koleksi buku yang ditulis Bung Karno, buku tentang Bung Karno yang ditulis orang lain, dan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan dan sblm kemerdekaan," tuturnya, Rabu (4/9/2019).

Menurutnya, persepsi sebagian orang mengenai pemikiran Bung Karno yang tak paham Islam dan orang yang lebih mengarah ke Marxisme, akan dijauhkan setelah membaca buku-buku di Perpustakaan tersebut

Bahkan dibuku Bung Karno yang judulnya Bung Karno dan Islam, beliau begitu hafal bicara tentang agama Islam dan Bahasa Arab dan santunnya ketika berbicara soal Agama.

"Santunnya beliau sebagai Proklamator tapi tidak pernah merasa lebih pintar dari Ulama. Contohya setiap dia mengutip Al-Qur'an ia selalau mencantumkan kata-kata nyewun sewu dalam bahasa Arab yang artinya, mohon maaf kalau salah. Selama ini persepsi kita tentang beliau salah," kata dia.

Ditanya soal minat baca, ia menyebutkan bahwa minat baca di Indonesia saat ini sudah memasukki tahap kedua yakni Kegemaran membaca. Ini terlihat karena Indonesia menempati posisi posisi ke- 16 dari 116 negara yang Gemar membaca.

"Tahun 2018 lalu di Greece kita ada di posisi 16, jadi kalau dikatakan minat baca kita rendah itu ndak juga. Itu budaya sebenarnya dan kita sudah masuk di tahap kedua," lanjutnya.

"Ini terjadi berkat lomba-lomba tingkat nasional dan gemar membaca yang sekarang sering kita kampanyekan, dibawah pengendalaiannya perpus nasional. Sesuai dengan UU 43 tahun 2007 pasal 21 disebutkan, semua masyarakat punya kewajiban yang sama dalam membudayakan kegemaran membaca," pungkasnya.

 

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 397