Berita :: GLOBALPLANET.news

Tersangka Asmuni saat diintrogasi Kapolres OKI. (Foto: Eko Saputra)

07 November 2019 18:28:00 WIB

OKI, GLOBALPLANET - Berdalih bahwa apa yang dilakukan adalah upaya penguatan agar anak didiknya giat belajar, Asmuni (51) oknum Guru SD di Mesuji Makmur, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) di Sumsel mencabuli anak didiknya. Tidak hanya satu, polisi menyebut sembilan anak telah menjadi korban kelakuan buruk guru cabul.

Akibatnya, pria berstatus PNS yang menjadi wali kelas dan guru mata pelajaran kelas VI di sekolah tersebut ditangkap dan akan dijerat Pasal 82 ayat (2) Jo Pasal 76E undang-undang RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas undang undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara. "Dan karena dia PNS juga selaku tenaga pendidik, maka ditambah 1/4 dari hukumannya," tegas Kapolres OKI AKBP Donni Eka Syaputra, Kamis (7/11/2019).

Aksi cabul tersangka ini terungkap setelah polisi menerima laporan dari ibu salah satu korban pada 28 Oktober 2019, bahwa anak perempuannya yang masih berusia 11 tahun dicabuli tersangka sebanyak 2 kali.

Kata Kapolres lagi, pertama, tindakan pencabulan terjadi di perpustakaan sekolah saat korban masih kelas V.

"Tersangka menyuruh korban menyetorkan hafalan di perpustakaan, itu saat korban kelas V. Dimana setelah korban setorkan hafalan, tersangka mencium pipi, memeluk, dan memegang alat kelamin korban dari bagian luar. Usai mencabuli, tersangka ancam korban sambil berkata, jangan bilang siapa-siapa nanti kamu tidak naik kelas," ujar Kapolres.

Tindakan kedua kembali dialami korban setelah duduk di kelas VI. Masih Kata Kapolres, kejadian kedua di gudang sekolah usai korban menyetorkan hafalan yang ditugaskan oleh tersangka. Korban dicabuli seraya diancam agar diam dan tersangka juga menjanjikan nilai yang bagus kepada korban.

"Sedikitnya ada 9 orang korban sudah kita periksa, semuanya anak perempuan di bawah umur, pelajar kelas VI. Selain itu ada juga telah duduk di bangku SMP bahkan ada yang telah menikah, mengaku pernah menjadi korban perbuatan Cabul tersangka," ungkap Kapolres.

Dari hasil keterangan korban, polisi mendatangi tersangka di rumahnya yang pada saat itu tidak berada di tempat. Lanjut Kapolres, lalu sekitar tanggal 5 November 2019, tersangka menyerahkan diri ke Polsek terdekat didampingi keluarganya, yang kemudian diserahkan ke Polres untuk pemeriksaan lebih lanjut.

"Aksi cabul tersangka dengan memegang bagian tubuh korbannya seperti memeluk dan memegang alat kemaluan dari luar, juga mencium pipi. Itu dilakukan saat proses belajar mengajar, Modusnya menanyakan PR hafalan atau sesuatu yang ia perintahkan kepada murid - muridnya," tandas Kapolres.

Para korban disuruh menyetorkan apa yang diminta tidak di dalam kelas, lanjut Kapolres, tetapi satu persatu secara bergiliran datang ke perpustakaan ataupun gudang sekolah yang kondisinya sepi lalu. Korban diraba - raba oleh tersangka dan juga diancam untuk tidak memberitahukan perbuatannya kepada siapapun.

"Menurut keterangan dari beberapa korban aksi cabul yang dilakukan tersangka ini terjadi berulang - ulang. Seperti korban yang pertama melapor saat ini duduk di kelas VI. Setelah kelas V juga pernah mengalami hal yang sama dilakukan oleh tersangka ini. Kemungkinan aksi cabul ini dilakukan sejak 2 - 3 tahun sebelumnya," tukas Kapolres.

Mengenai jumlah korban, menurut Kapolres, sampai saat ini baru ada sembilan anak di bawah umur, yakni pelajar Kelas VI SD yang telah mengaku menjadi korban tersangka. Kapolres menyebutkan tidak menutup kemungkinan masih ada korban lainnya. 

"Yang jelas saat ini baru ada 9 orang, dan senuanya hanya dicabuli, tidak sampai terjadi persetubuhan," pungkas Kapolres.

Reporter : Eko Saputra Editor : M.Rohali 1119