loader

IDI Palembang: Keberhasilan Penyembuhan Covid-19 Melalui Terapi Plasma Konvalesen Hanya 60 Persen

Foto

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Menurut Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palembang, Dokter Zulkhair Ali mengatakan, plasma konvalesen bukanlah terapi utama dalam mencegah Covid-19. Bahkan plasma konvalesen ini masih dalam penelitian.

"Harus kita ingat, bahwa plasma konvalesen ini terapi terlatih untuk penyintas Covid-19. Sehingga terapi ini masih berupa terapi tambahan, jadi belum bisa dijadikan terapi definitif (tetap)," katanya, Minggu (31/1/2021) 

Dia menjelaskan, angka keberhasilan terapi konvalesen tidak tinggi, hanya 60 persen. Menurut pengalamannya ada kemungkinan terapi plasma konvalesen ada yang sukses (sehat) bahkan ada juga yang gagal.

"Dan ini dilakukan kalau dokter yang merawatnya meminta, jadi bukan pasien minta. Kalau itu penting, di samping biaya yang mahal, manfaatnya juga belum signifikan juga punya efek samping," terangnya.

Terapi plasma konvalesen ini ialah memasukan plasma ke dalam tubuh sehingga ada reaski (efek samping), seperti alergi. Bagi pendonor plasma konvalesen harus dilakukan skrining terlebih dulu. Proses plasma konvalesen sama dengan tranpusi darah.

Namun, untuk terapi plasma ini pasien tidak diperbolehkan meminta sendiri, harus berdasarkan rekomendasi dari dokter. Sehingga masyarakat jangan terlalu mendewakan terapi plasma konvalesen ini.

"Karena itu adalah komponen darah, jadi oleh sebab itu tetap kita mulai melihat terapi konvalesen ini sebagai terapi tambahan yang mendukung pasien tersebut," jelasnya.

Masih kata dia, penerima konvalesen pun harus sesuai yang membutuhkan, yaitu dengan gejala sedang dan mulai berat. Sedangkan untuk gejala sangat berat tidak perlu diberikan plasma, karena tidak ada hasilnya.

"Bahkan yang kita dengar, ada orang untuk pencegahan pakai terapi konvalesen, nah itu salah (keliru), atau orang baru terpapar tidak ada gejala sudah langsung masuk (diberi plasma) itu juga tidak boleh. Namun, berilah sesuai kebutuhan dan diharapkan bisa membunuh virus Covid-19," tutur dia. 

Adapun metode pengambilan darah dari penyintas Covid-19 diambil dengan metode apheresis. Jadi hampir seluruh Rumah Sakit di Kabupaten/Kota diberikan alat apheresis dan alat itu cukup canggih.

"Jadi Apheresis adalah kegiatan medis yang melakukan proses pengambilan salah satu komponen darah melalui alat apheresis, kemudian komponen lainnya akan dikembalikan lagi ke dalam tubuh. Hasil dari donor apheresis ini dipergunakan untuk pasien Covid-19," tambahnya. 

Alat itu di aliri darah jadi plasma nya di ambil dengan apheresis, komponen-komponen dalam darah yang dibutuhkan, bisa dengan mudah dipisahkan dengan apheresis, untuk kemudian diambil sebagai bagian tindakan pengobatan, atau sebagai bentuk terapi (penyembuhan). Kalau donor darah mudah di ambil kemudian di pisahkan dan memang caranya tradisional. 

Diketahui saat ini RSUP Muhammad Hoesin Palembang dan PMI Kota Palembang telah membuka layanan donor plasma konvalesen.

Share