loader

Kemacetan Menjadikan Masyarakat Kota Palembang Stres

Foto
Ilustrasi kemacetan di Palembang. (Foto: Ist/Fanji Maulana)

LALU - Lintas di Kota Palembang semakin hari semakin padat, menjadikan kemacetan tidak dapat dihindarkan. Hampir di setiap sudut kota terjadi penumpukan kendaraan. Terlebih lagi pada jam-jam sibuk. 

Situasi ini sudah menjadi keluhan masyarakat dan meminta segera agar ada upaya penyelesaiannya. Kemacetan yang semakin parah itu bukan tanpa sebab, karena kemacetan lalu lintas sangat mengganggu masyarakat untuk beraktivitas. Selain dari ketidaktertiban para pengguna jalan, kemacetan diakibatkan oleh tata ruang yang semrawut/berantakan. 

Pertumbuhan volume kendaraan bermotor yang terus meningkat dan tidak diimbangi penambahan ruas jalan, kondisi ini sebagai penyebab penyumbang kemacetan. Dari hasil monitoring, ruas jalan paling parah di jam sibuk, terutama pagi dan sore terlihat di Jalan Soedirman, KM 3, KM 5, Demang Lebar Daun, KM 9, dan area lain dengan kemacetan parah terjadi dipusat pemberlanjaan (pasar), aktivitas kampus, dan perkantoran. 

Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah Kota Palembang bersama Satlantas Polrestabes Palembang untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Sayangnya solusi mengatasi kemacetan itu tidak memberikan dampak yang signifikan, karena apa yang ada di lapangan hanya memindahkan titik kemacetan. Begitu juga dengan hancurnya infrastruktur jalan, lampu lalu lintas yang sering dilanggar, dan kurangnya personel polisi untuk mengatur lalu lintas terutama di persimpangan jalan yang padat. 

Masyarakat Kota Palembang berang menghadapi tumpukan kendaraan yang merayap padat dengan intensitas waktu yang lama. Upaya lain yang diharapkan dari Pemkot Palembang adalah melakukan penertiban kawasan bebas parkir, sekaligus menata perparkiran dengan baik. Karena, parkir berlapis juga penyebab dari kemacetan lalu lintas. 

Peran Satlantas Polrestabes Palembang juga sangat dibutuhkan masyarakat untuk hadir. Tak kala di jam-jam sibuk untuk mengatur lalu lintas, dan memberi tindakan bagi pelanggar lalu lintas. Dijelaskan juga, keadaan diperparah lantaran pemangku jabatan seakan acuh tak acuh dengan suasana di tengah masyarakat. 

“Secara keseluruhan perlu di tata ulang. Tinggal lagi mau atau tidak mau. Mengerti atau tidak mampu. Itu artinya menunjukkan pelayanan kepada masyarakat yang tak maksimal," ungkap Syaidina Ali, mantan Kadishub Palembang.

Akibat kemacetan baik roda dua maupun roda empat tak sedikit mengakibatkan kerusakan jalan, BBM sulit didapat hingga populasi udara di mana-mana. Sehingga hal demikian sangat merugikan masyarakat. “Kondisi ini terkadang membuat masyarakat awam menjadi tidak peduli. Inilah pentingnya perilaku pelayanan tidak maksimal. Seharusnya pemerintah bersimulasi terlebih dahulu baru nantinya diterapkan dijalan," katanya.

 

 

Penulis: Septiani

Mahasiswi FISIP UIN Raden Fatah Palembang

Share

Ads