loader

Pengrajin Tempe di Palembang Tak Pusing Soal Kenaikan Kedelai, Kenapa Bisa?

Foto

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Hal inilah yang terlintas dipikiran Junaidi (48) warga Jalan Asia, Kelurahan Plaju Ulu yang berprofesi sebagai pengrajin tempe selama kurang lebih 28 tahun.

"Kalau saya pribadi menganggap kenaikan ini biasa saja, toh masyarakat juga sudah menerima dan mengerti bahwa harga kedelai memang sudah naik sejak dua pekan lalu, " kata Juned sapaan akrabnya ketika dijumpai di kediaman, Kamis (7/1/2021).

Harga kedelai yang naik dari kisaran Rp 6.500 - Rp 7.000 perkilo menjadi Rp 9.300 per kilogram seolah tidak membuatnya hilang akal untuk langsung menaikkan harga. Karena ini bukan yang pertama kali, di tahun 2013 lalu Juned menceritakan harga kedelai sampai Rp 9.800 per kilogram.

"Saya tak ambil pusing karena tahun 2013 lalu sudah pernah alami hal seperti ini, daripada susah mencari uang saya atur saja strategi, " ungkapnya.

Menanggapi kenaikan ini, Juned hanya mengurangi porsi tempe atau mengecilkan ukuran tempe dari biasanya yang ia buat. Dalam satu hari ia bisa menghabiskan 50 kilogram kedelai untuk pembuatan tempe.

"Ukurannya saja yang diperkecil, harga tetap sama. Jadi jumlah tempe (per potong) yang diproduksi tetap sama tapi porsinya diperkecil. Dan Alhamdulilah masih diterima masyarakat, kalau sudah begitu untuk apa mengeluh lagi, " jelasnya.

Ia menilai kenaikan harga kedelai ini disebabkan oleh biaya impor kedelai yang didatangkan dari Amerika Serikat. "Karena pandemi ongkos impor jadi naik saya rasa itu penyebabnya bukan karena kedelainya langka, " tandasnya.

Selain itu ia juga tidak berharap banyak dengan pemerintah sebab masalah harga kedelai pasti akan berangsur normal seiring waktu.

"Pemerintah juga lagi fokus kembalikan ekonomi jadi belum bisa berharap, saya mengerti juga, " pungkasnya.

Share

Ads