Berita :: GLOBALPLANET.news

Ketua Komite Film Dewan Kesenian Palembang Krismadi Rahmawan. (Foto: Rachmad Kurniawan)

05 Januari 2020 16:31:51 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Melihat pertumbuhannya, Kota Palembang mempunyai kans untuk dapat berbicara di dalam kancah perfilman nasional, terutama untuk film bergenre Indie. Hal ini diutarakan Krismadi Rahmawan, Ketua Komite Dewan Kesenian Palembang.

"Ada indikasi bahwa komunitas film kita sebenarnya bisa bersaing di kancah perfilman nasional untuk genre film Indie. Ini terbukti dari beberapa kejuaraan festival film yang diselenggarakan PT Gojek dan BNN kita dapat juara satu. Dan festival film yang diadakan V-kool kita dapat juara favorit," ungkap Kris kepada globalplanet.news, Minggu (5/1/2019).

Ada 22 komunitas film yang terdata aktif di Kota Palembang, 3 diantaranya adalah komunitas film dokumenter dan sebagian besar lainnya bergenre film fiksi dan drama.

Keberadaan Komite Film DKP akan mengembangkan dan mengukur sejauh mana kesiapan sineas-sineas muda di komunitas lokal yang aktif dalam dunia perfilman. Karena ada beberapa kendala yang dihadapi industri film di Palembang yang membuatnya belum siap untuk masuk ke industri film layar lebar.

"Pertama SDM kita kurang, kemudian jika ingin melangkah ke industri film layar lebar kita tak punya Equipment (peralatan), seperti kamera dan lighting itu mahal sekali. Sehingga kalau mau buat film layar lebar pun kita masih harus menyewa Equipment dari Jakarta. Kita butuh suntikan dana, dan kami siap mendorong investor untuk mendukung perfilman Palembang. Makanya kami memulai program-program yang kecil dulu, mulai dari workshop dan festival film Musi Indie Fest setiap tahun untuk mengukur indikator komunitas film sudah sesiap apakah mereka," katanya.

Pria yang telah aktif di dunia perfilman sejak 2012 lalu ini menerangkan, dengan banyaknya sejarah yang dimiliki, potensi film dokumenter soal sejarah di Palembang sangat besar. Film-film yang mengangkat tempat-tempat bersejarah di Kota Palembang dan kehidupan di pinggiran Sungai Musi sangat layak untuk dikemas dalam sebuah film.

Namun sayangnya anak muda dan komunitas yang ada cenderung lebih tertarik mengangkat film fiksi dan drama. "Kita akan mengedukasi mereka selain memajukan fiksi, juga bagaimana mengemas film dokumenter sesuai standarnya terutama soal sejarah dan budaya Kota Palembang. Seperti yang kita tahu film dokumenter tidak se-Cinematic film fiksi dan drama, tapi nilai story-nya yang harus diambil penonton/masyararakat," kata dia.

Geliat komunitas film di Palembang ada di puncaknya pada tahun 2014 saat FFI digelar di Palembang. Dan terakhir ada Musi Indie Fest yang setiap tahun digelar, berkaca pada Musi Indie Fest 2018 pesertanya bahkan ada dari Australia dan Malaysia.

"Tahun ini tepatnya bulan Juni nanti Musi Indie Fest akan digarap dalam skala Internasional. Mengingat peserta luar negeri pun mengirimkan filmnya ke festival kita," pungkasnya.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Zul Mulkan 170