PALI, GLOBALPLANET - Seperti terpantau di pasar Simpang Raja Kelurahan Handayani Mulya, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) pada Kamis (6/2), harga karet paling tinggi hanya menembus angka Rp 6.200/kg.
"Bukan turun pak, tapi terjun, sebab pada minggu lalu harga getah mencapai Rp 7.700/kg, tapi sekarang hanya Rp 6.200/kg," kata Nasar, salah satu petani setempat.
Dengan turunnya harga getah diakui Nasar bahwa omsetnya turun drastis hingga 25 persen, belum lagi hujan yang kerap turun pada siang hari.
"Sudah turun, produksi getah juga berkurang karena sering ditimpa hujan. Kami hanya pasrah hadapi kondisi ini, dan percuma juga meminta pemerintah untuk menaikan harga, kami hanya minta kepada pemerintah untuk menekan harga kebutuhan pokok," harapnya.
Keluhan sama diutarakan Hendi, petani karet asal Jerambah Besi Kecamatan Talang Ubi. "Harapan kami ada upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi getah kami dengan memberikan pupuk atau penyuluhan kepada petani karet supaya meski harganya murah namun produksi melimpah," pintanya.
Sebelumnya, Erizon, Plt Kepala Dinas Pertanian Kabupaten PALI menyebut bahwa petani bisa ajukan permohonan bantuan melalui kelompok tani yang didampingi petugas penyuluh lapangan.
"Kami juga berupaya memberikan solusi lain agar petani tidak tergantung pada hasil sadapan karet saja, supaya ketika harganya jatuh, ada sumber lain yang bisa menopang penghasilannya. Saat ini kita kembangkan tanaman serai wangi, sebab tanaman tersebut saat ini nilai jualnya cukup tinggi," terang Erizon.
Tetapi sebelum mengembangkan tanaman serai wangi, Dinas Pertanian PALI diakui Erizon tengah melakukan penjajakan dengan perusahaan yang bakal menampung hasil panennya.
"Saat ini kita mengejar kerjasama dengan pihak perusahaan pengolah serai wangi. Sebab percuma kalau tamanan melimpah tapi tidak ada yang menampung. Tapi mudah-mudahan kerjasama ini bisa terlaksana," tutupnya.