loader

Jo Daud Dharsono: Sawit Itu Penuh dengan Tantangan

Foto

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Semua orang yang biasa bergelut di sektor kelapa sawit mesti kenal dengan sosok Jo Daud Dharsono, sosok yang saat ini menjadi pucuk pimpinan di salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit besar di Indonesia, PT SMART Tbk semenjak 2008 lalu.

Ketertarikan Daud terjun di sektor kelapa sawit lantaran industri ini adalah salah satu industri makanan, apalagi di dunia industri makanan dan energi akan selalu menjadi industri yang dibutuhkan semua negara. Terlebih khusus untuk sawit, selain bisa untuk bahan baku makanan juga bisa untuk dijadikan bahan baku energi.

“Ini adalah industri hijau, bisa menghijaukan areal marginal dan padat karya,” kata Daud.

Wajar bila kemudian, Daud Dharsono, hampir selama 32 tahun setia dengan sawit. Alasan lain yang membuat Daud betah di sawit lantaran industri sawit juga dianggap sebagai salah satu industri yang penuh dengan tantangan, musababnya harus selalu membuat terobosan-terobosan baru utamanya untuk terus menggenjot produktivitas perkebuan kelapa sawit, meningkatkan daya saing termasuk mengatasi isu berkelanjutan (sustainability), sehingga kelapa sawit bisa dipercaya sebagai komoditas yang berkelanjutan alias ramah lingkungan.

Guna tercapainya tujuan peningkatan produktivitas dan aspek berkelanjutan, Daud pun fokus pada pembentukan kultur atau budaya perusahaan, untungnya kata dia, di Sinar Mas sudah ada kultur yang dibangun founder Sinar Mas, Eka Tjipta Widjaja, sehingga memudahkan dalam pengembangan selanjutnya.

Nilai-nilai perusahaan itu diantaranya Integritas, Komitmen, Kontinyus Improvment, Inovasi dan loyalitas. “Dengan value ini kita bentuk kultur kita untuk memberikan hal yang terbaik untuk Sinar Mas, lantas kita memberikan kesempatan berprestasi buat anak buah kita sebaik-baiknya,” kata Daud seperti tertulis dalam Majalah InfoSAWIT Edisi Juli 2017.

Sejalan dengan value perusahaan yang dibangun, strategi dalam mengembangkan perusahaan yang dipimpinya kedepan, Daud lebih memilih pada pengembangan sumber daya manusia (human resources), yang dilakukan dari jajaran mandor di lapangan hingga karyawan, terutama untuk memberikan pengertian dan pemahaman mengenai aspek berkelanjutan.

Setelah memperkuat sumber daya manusia dan kaderisasinya, selanjutnya tutur Daud yang sempat mengajar di STIE Perbanas pada periode 1982-1997 lalu, giliran mendongkrak produktivitas perkebunan kelapa sawit.

Upaya peningkatan yield ini salah satunya telah dilakukan dengan menghasilkan benih kelapa sawit unggul kultur jaringan (tissue culture), yang mana varietas benih tanaman sawit itu bernama Eka 1 dan 2 yang belum lama ini telah mendapat ijin dari pemerintah lewat Kementerian Pertanian.

Kabarnya benih sawit unggul ini diyakini memiliki tingkat produktivitas tinggi, merujuk informasi dari perusahaan benih sawit Eka 1 memiliki potensi rendemen minyak mencapai 32% dengan potensi produksi sekitar 10,8 ton CPO/ha/tahun.

Sementara benih sawit Eka 2 memiliki rendemen minyak hingga 36%, dan memiliki potensi produksi sekitar 13 ton CPO/ha/tahun. Kedua benih sawit unggul kultur jaringan itu memiliki waktu tunggu panen hanya sampai 24 bulan.

Peningkatan yield dengan memperbaiki bahan tanaman jelas akan berkaitan dengan pembangunan divisi riset dan pengembangan (R&D). Untuk menghasilkan benih sawit ini pihak perusahaan rela untuk menginvestasikan sebagian keuntungannya. Kata Daud, untuk investasi di sektor riset dan pengembangan pihaknya telah menganggarkan sekitar 1% dari revenue Golden Agri-Resources Ltd, selaku perusahaan induk dari PT SMART Tbk., sementara untuk PT SMART Tbk., investasi untuk sektor riset dan pengembangan sebanyak 3% hingga 4% dari revenue.

Lantas yang terpenting tutur Daud, adalah melakukan penurunan ongkos per ton produk dengan emisi karbon lebih rendah, semisal dengan menangkap metane dari limbah cair kelapa sawit. “Metane ditangap tidak terbang ke udara sehingga emisi per hektar jadi lebih rendah,” kata pemilik memiliki hoby jalan-jalan dan bila hari libur lebih menyukai bersama keluarga itu.

Menerapkan teknik mekanisasi dan otomisasi di perkebunan pun menjadi strategi lanjutan yang diterapkan, sehingga tercapai efisiensi. Daud mencontohkan, dengan mekanisasi maka proses panen yang sebelumnya 1 orang untuk seluas 4 ha maka saat ini bisa dilakukan sampai 6 ha. Termasuk melakukan digitalisasi sehingga memperkuat daya saing. “Hasilnya bisa menekan ongkos produksi sehingga bisa bersaing,” katanya.

Share

Ads