loader

Usaha Tani Mina Padi, Lebah Madu Dijajal di Lahan Gambut Banyuasin

Foto

BANYUASIN , GLOBALPLANET.news - Bupati Banyuasin H. Askolani Jasi meresmikan dimulainya operasional lahan uji coba budidaya ikan di sawah atau mina padi usaha tani dan lebah madu, Rabu(2/4/2022). Uji coba ini merupakan upaya mencari model penguatan penghidupan masyarakat di lahan gambut berwawasan lingkungan.

Peresmian operasional lahan uji coba didampingi oleh Direktur ICRAF Indonesia Dr Sonya Dewi, Kepala Bappeda dan Litbang Kabupaten Banyuasin Qosarudin.

Petani di desa Baru di Kecamatan Rambutan, Banyuasin, Sumatera Selatan  kini memiliki lahan uji coba (demonstration plot) budidaya ikan di sawah atau mina padi usaha tani dan lebah madu, yang terbagi menjadi 2 zona (A untuk usaha tani mina padi dan B untuk budidaya lebah madu)  akan dikelola secara bersama oleh masyarakat dan di bawah bimbingan peneliti dan Tim Kerja Bersama dari unsur OPD Kabupaten Banyuasin. 

Uji coba ini merupakan buah dari proses panjang penggalian data dan penggalangan kolaborasi dari berbagai pihak, termasuk masyakarat desa, yang telah dilakukan sejak akhir tahun 2021. Sebelumnya, peneliti dari World Agroforestry (ICRAF) Indonesia telah menggali data di desa, mengolah dan mengembalikannya sebagai bahan diskusi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya. Bersama dengan Forum DAS Sumsel telah dilakukan penguatan aspek kelembagaan dan pembentukan komitmen bersama di tingkat desa, kecamatan , dan kabupaten. Kegiatan ini adalah bagian dari kerja sama antara ICRAF, melalui Peat-IMPACTS and Pemerintah Kabupaten Banyuasin melalui Bappeda, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Dinas Pertanian dan Dinas Perikanan, dan OPD terkait lainnya. 

Ujicoba ini merupakan bagian dari pengembangan rencana usaha (business model) yang dikembangkan untuk masyarakat desa berdasarkan hasil kesepakatan masyarakat desa sebagai strategi matapencaharian di lahan gambut secara lestari, dimana masyarakat juga didampingi oleh Tim Kerja Bersama Kabupaten Banyuasin, dan dibentuknya tim kerja desa yang terdiri dari masyarakat desa yang secara aktif melakukan kegiatan ini.  

Askolani menyambut hangat prakarsa untuk memperkenalkan jenis-jenis usaha tani kepada para petani secara langsung sehingga diharapkan akan muncul rasa kepemilikan terhadap inisiatif tersebut dan dapat melakukan praktik adopsi terhadap jenis usaha tani di lahan gambut secara lestari. Dukungan dari pihak lain sangat diharapkan oleh pemerintah daerah terlebih dalam upaya untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan upaya menjaga kelestarian lingkungan. 

“Atas nama pemerintah dan masyarakat, kami sampaikan apresiasi yang mendalam kepada ICRAF dan para mitra. Pilihan usaha tani masyarakat di desa dengan lahan gambut tidak banyak, sehingga Inovasi-inovasi semacam ini akan membantu masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dan pada saat yang sama menjaga keberlanjutan lingkungan,” kata Askolani dalam sambutannya.

Kabupaten Banyuasin memiliki lahan gambut seluas 295.800 hektare atau 13 persen dari total lahan gambut di Sumatera Selatan. Mayoritas lahan gambut dimanfaatkan oleh masyarakat untuk bercocok tanam padi.

Dr Sonya Dewi mengatakan Desa Baru adalah satu dari 34 desa yang menjadi lokasi penelitian Peat-IMPACTS di Sumatera Selatan. Inovasi usaha tani dalam praktik pertanian dengan memadukan sistem agroforestri ditawarkan kepada masyarakat dan pemangku kepentingan sebagai bagian dari upaya untuk memperbaiki tata kelola gambut sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Model usaha tani tersebut telah disosialisasikan ke para pemangku kepentingan mulai dari pemerintah provinsi hingga pemerintah desa, masyarakat, LSM, asosiasi, perusahaan swasta lainnya untuk menemukan rumusan yang cocok dengan desa sasaran. 

“Desa memiliki karakter yang berbeda satu dengan lainnya, baik dari sisi ekologis dan mata pencaharian masyarakatnya. Tidak ada satu solusi yang menjawab beragam karakter itu,” tambahnya. 

“Plot demonstrasi atau lahan uji coba ini juga menjadi ruang belajar bersama, untuk petani khususnya dan masyarakat luas serta pemangku kepentingan tentang bagaimana praktik perekonomian bisa diselaraskan dengan kondisi alam supaya berkelanjutan.” 

Peat IMPACTS atau Improving the Management of Peatlands and the Capacities of Stakeholders in Indonesia adalah bagian dari International Climate Initiative (IKI), Pemerintah JermanProyek ini berlangsung selama 4 tahun (2020–2023) di Kabupaten Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, dan Kabupaten Kubu Raya di Kalimantan Barat.

Share

Ads