PALEMBANG, GLOBALPLANET - Kepala Perwakilan Bank Indonesia
Provinsi Sumatera Selatan Bambang Pramono, PhD menjadi salah satu narasumber dalam seminar Andalas Forum ke-6 yang berlangsung di Hotel Aryaduta Palembang, Kamis (16/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut Bambang Pramono memaparkan Perkembangan Pembiayaan Sektor Kelapa Sawit Sumatera dan strategi ke depan.
Kredit sektor perkebunan khususnya sawit masih berpotensi untuk ditingkatkan pada Februari 2026, penyaluran kredit total di Sumatera tumbuh tinggi akseleratif sebesar 8,57% (yoy) dengan nominal penyaluran sebesar Rp1.163 triliun. Hal ini tercermin dari akselerasi seluruh jenis kredit yakni
modal kerja (3,40%; yoy), investasi (16,89%; yoy), dan konsumsi (7,87%; yoy).
"Pada Februari 2026, NPL kredit perbankan di Sumatera tercatat sebesar 1,79% cenderung stabil dibandingkan Februari 2025 sebesar 1,81%. Adapun rasio kredit bermasalah tertinggi berasal dari kredit modal kerja," katanya.
Lanjutnya, Kredit ke sektor perkebunan kelapa sawit masih berada dalam tren penurunan. Risiko kredit ke perkebunan sawit relatif terjaga dengan tren penurunan pada Februari 2026.
Dijelaskannya, untuk peluang ke depan, Sumatera tetap menjadi basis utama industri sawit nasional, dengan pangsa besar pada produksi CPO dan kapasitas biodiesel, sehingga memberi dasar permintaan pembiayaan yang kuat.
Model rantai nilai sawit relatif terintegrasi dari hulu hingga hilir, sehingga membuka ruang pembiayaan end-to-end dari
kebun, PKS, refinery, hingga bioenergi.
"Total pembiayaan sektor kelapa sawit mencapai Rp248,47 triliun dan didominasi subsektor perkebunan sebesar 55,03%, menunjukkan basis kredit yang sudah besar untuk ditingkatkan kualitas dan arahnya. Risiko kredit relatif terjaga; NPL perkebunan sawit masih rendah dan jauh di bawah ambang
5%, sementara LaR subsektor industri cenderung melandai," jelasnya.
Lanjutnya lagi, Inovasi instrumen pembiayaan sudah tersedia, yakni SLL untuk perbaikan praktik keberlanjutan di hulu dan green loan untuk proyek hilir rendah emisi seperti biogas POME, biomassa, dan efisiensi energi.
Pembiayaan sektor perkebunan dan industri berbasis kelapa sawit masuk dalam kelompok yang memperoleh insentif KLM.
Tantangan ke depan, bahwa Produktivitas hulu masih tertahan, terutama karena 57,74% lahan sawit Sumatera berada pada perkebunan rakyat dan realisasi PSR masih rendah.
"Pasokan bahan baku berisiko terganggu karena tanaman rakyat memasuki fase non-produktif, sementara biaya replanting tinggi dan legalitas lahan masih menjadi kendala," terangnya.
Kemudian Hilirisasi masih didominasi upstream-midstream; sementara pengembangan downstream memerlukan teknologi tinggi, investasi besar, dan
ekosistem industri yang lebih kuat.
Pembiayaan di sisi hulu masih sensitif terhadap suku bunga; bunga kredit perkebunan lebih tinggi dibanding industri CPO/minyak goreng, dan suku bunga domestik kurang kompetitif dibanding negara peers.
Kebutuhan pembiayaan hilirisasi besar, bersifat high tech-high investment, dan pada sebagian
proyek berpotensi melampaui BMPK perbankan.
Gap pembiayaan PSR masih lebar karena biaya replanting melebihi dana PSR, ada kehilangan pendapatan selama TBM 3–4 tahun, dan skema saat ini belum fully risk-sharing.
"Adanya isu sustainability menjadikan sektor kelapa sawit dinilai berisiko tinggi oleh perbankan," pungkasnya.













