loader

Perhatikan Pembangunan Gizi dan Ketahanan Pangan Keluarga

Foto
Pembagian bantuan bibit buah dan sayuran di Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat. ( Foto : Ferry Andika)

LAHAT, GLOBALPLANET - Program Corporate social responsibility atau CSR merupakan tanggung jawab sosial dan lingkungan bagi perusahaan perseroan. Program tersebut, merupakan suatu konsep atau tindakan yang dilakukan di dunia usaha atau industri sebagai rasa tanggung jawab. 

Tanggung jawab itu akan ditujukan untuk sosial maupun lingkungan sekitar. Sedangkan, fungsi dari CSR merupakan salah satu bentuk kepatutan yang diberikan oleh perusahaan kepada masyarakat yang berada di sekitar perusahaan. 

Adanya tanggung jawab sosial perusahaan ini, dapat memberikan sebuah perubahan positif di dalam kehidupan masyarakat atau komunitas. 

Tujuan dari pada program yang wajib untuk ditunaikan bagi perusahaan ini, adalah untuk menyumbang pencapaian kesehatan, kesejahteraan termasuk pembangunan ketahanan pangan dan gizi keluarga secara berkelanjutan. 

Program CSR, yang digelontarkan di Kabupaten Lahat, sudah dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, mulai dari program infrastruktur, pemberdayaan dan sebagainya. Yang tidak kalah penting, belum lama ini, Gubernur Sumatera Selatan, H Herman Deru meluncurkan Program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP). 

Program ini, sebagai visi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional.  Diharapkan, semua pelaku pembangunan agar secara sinergi bekerja sama dan sama-sama bekerja bahu-membahu sesuai kapasitas dan kewenangan masing-masing, dalam meningkatkan kemandirian pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani serta menurunkan kemiskinan, guna mencapai tujuan akhir pembangunan, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. 

Bumi Seganti Setungguanpun sudah  merealisasikan program yang diyakini dapat menekan kemiskinan bagi masyarakat ini, bahkan launching program GSMP ini telah dilakukan di Kabupaten Lahat pada Kamis, 2 Desember 2021 silam. 

Dalam merealisasikan program ini, tentu saja membutuhkan dukungan semua pihak, sehingga apa yang sudah menjadi target program ini, yakni masyarakat mempunyai kemampuan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi keluarga melalui pengembangan ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan dengan memanfaatkan sumber daya setempat secara berkelanjutan bisa terwujud. 

PT Bukit Asam Tbk, turut berpartisipasi dalam mendukung suksesnya program ini, artinya perusaan yang bergerak dibidang pertambangan batu bara itu, peduli dengan kebutuhan gizi masyarakat, terlebih disektor ketahanan pangan. 

Melalui program CSRnya, perusahaan yang sudah tak asing bagi masyarakat Kabupaten Lahat khususnya, Indonesia pada umumnya itu, memberikan bantuan benih sayuran dan buah beserta media tanam polibek kepada Rumah Tangga Miskin (RTM) yang menjadi sasaran program ini. 

Meskipun nilainya tidak terlalu besar, namun CSR yang telah diberikan ini, merupakan langkah awal bagi RTM sasaran untuk berkelanjutan, agar bisa memenuhi ketahanan pangan, kebutuhan gizi didalam lingkungan keluarga, karena program GSMP tersebut, sasaran pertamanya adalah cara berpikir masyarakat yang sebelumnya punya mindset atau pemikiran konsumtif, kemudian perlu diubah menjadi produktif dalam produk pertanian.

Dengan demikian, masyarakat di seluruh kabupaten/kota se Sumsel, khusunya Kabupaten Lahat  mampu memproduksi hasil pertanian tidak akan tergantung lagi dengan hasil pertanian negara lain. 

Dapat disimpulkan, apa yang telah diberikan PT Bukit Asam Tbk melalui program CSR, bukan persoalan besar atau kecil nilainya, namun dampaknya akan besar pada kehidupan masyarakat, bukan hanya dalam bidang pembangunan infrastruktur saja, namun juga berupaya membantu memenuhi kebutuhan gizi.

Ketahanan pangan masyarakat, secara tidak langsung juga membantu masyarakat meningkat ekonomi dalam keluarga, mengingat apabila serius dalam merealisasikan program tersebut, masyarakat penerima bantuan bisa menekan atau mengurangi biaya hidup, karena yang diberikan diyakini bisa berkelanjutan dalam jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi dan kehidupan masyarakat khususnya RTM yang menjadi sasaran. 

Yang tak kalah penting, dengan berkurangnya biaya hidup masyarakat, penghasilan yang didapat bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lainnya, karena bantuan yang diberikan tersebut, kedepan akan mencukupi kebutuhan makan sehari-hari, masyarakat tidak bergantung kepada pasar melainkan bisa mengambilnya dari hasil budidaya sayuran, buahan atau yang lainnya yang ditanam di halaman rumahnya.

Dalam pelaksanaan program ini, selain membtuhkan dukungan dan sinergi dari semua pihak dengan peranan dan fungsi masing-masing, RTM atau masyarakat yang menjadi sasaran penerima, juga harus serius dalam merealisasikan program yang dicita-citakan yakni Sumatera Selatan menjadi lumbung pangan nasional. 

Apalagi, dampak baik dan positif kedepannya kuga untuk masyarakat itu sendiri. Dan Sumsel bisa mempertahankan labelnya sebagai daerah surplus pangan dan hasil pertanian. 

Apalagi, orang nomor satu di Bumi Seganti Setungguan, Cik Ujang SH memberikan respon positif, dan mendukung gagasan dari Gubernur Sumsel, H Herman Deru tersebut. 

Program ini kata Cik Ujang merupakan salah satu gerakan untuk merubah pola pikir masyarakat, dari yang biasanya memenuhi kebutuhan pangan dalam keluarga denganc cara membeli dipasar jadi menghgasilkan sndiri, dengan menggalakan pemanfaatan pekarangan rumah masing-masing sebagai sumber pangan dan gizi keluarga.

Program GSMP di Kabupaten Lahat, menyasar 480 RTM di 24 kecamatan, masing-masing satu kecamatan satu desa untuk 20 RTM. RTM tersebut diberikan bantuan, yakni bibit sayur dan buah beserta media tanam polibek melalui Dinas Tanaman Langan Hortikultura dan Peternakan Kabupaten Lahat, sehingga penerima bantuan tinggal melakukan budidaya saja di areal pekarangan rumah. 

Program tersebut, dilakukan secata bertahap, mulai tahun 2022 dan ditargetkan selesai pada tahun 2023 mendatang. RTM penerima bantuan tersebut, diharapkan bisa mengembangkan apa yang sudah diberikan secara berlanjut. Jangan hanya sebatas untuk kebutuhan indivindu, melainkan bisa dikembangkan dari skala rumahan menjadi skala produksi.

 

 

Share