Berita :: GLOBALPLANET.news

21 Januari 2021 21:10:15 WIB

MEDAN, GLOBALPLANET. - Amerika Serikat dan negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa saat ini terus menekan minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO), baik dari Indonesia maupun Malaysia. Indonesia sendiri berharap banyak dari pasar nontradisional, termasuk dari Tiongkok yang beberapa tahun terakhir mulai menjelma menjadi buyer atau pembeli terbesar CPO Indonesia.

Namun, kata pengamat ekonomi asal Kota Medan, Gunawan Benjamin, kepada media, Kamis (21/1/2021), harga CPO di pasar global terus menukik tajam, dari semula naik RM 3000 sampai RM 4000-an per ton, mejadi RM 3.200 per ton.

Kata dia, Tiongkok yang diharapkan menjadi buyer yang bisa mendongkrak kenaikan harga CPO, justru sedang mengerem aktivitas ekonomi dan kembali memberlakukan lock down di sejumlah kotanya. Padahal, sambung Gunawan, bulan depan Tiongkok akan memasuki liburan Tahun Baru Imlek.

Momen libur Imlek, ujar Gunawan, biasanya menaikan tingkat konsumsi Tiongkok terhadap CPO, termasuk dari Indonesia. Ia justru tidak melihat ada tanda-tanda pelonggaran lock down menjelang liburan Imlek. Kemungkinan hal itu dilakukan guna meredam penyebaran pandemi Covid-19.

Jika benar Tiongkok meredam sementara ekonominya dan fokus pada lock down, Gunawan khawatir harga CPO semakin tertekan dan akan berimbas pada penurunan harga TBS, terutama milik petani sawit swadaya.

Ia yakin akan ada upaya revisi terhadap harga TBS setiap minggu. “Jadi hingga bulan Maret saya justru melihat potensi harga CPO akan berada dalam titik kritis dan trennya akan turun. Ini yang harus menjadi catatan bagi kita semua,” kata Gunawan.

Cuaca

Namun Gunawan Benjamin melihat tetap ada peluang kenaikan harga CPO, yakni perubahan cuaca global yang ekstrim dan menimbulkan bencana alam di sejumlah negara termasuk Indonesia. Cuaca yang sangat ekstrim, kata Gunawan, biasanya kurang mendukung produktivitas dan pengolahan tanaman sawit.

Jika hal itu terjadi, ia memprediksi harga CPO di pasar global bisa ke harga yang lumayan, yakni di kisaran RM 3000 per ton. Sebab, cuaca ekstrim itu akan membuat stok CPO berkurang, namun permintaan buyer juga belum diketahui naik signifikan atau tidak.

Reporter : Hendrik Hutabarat Editor : Erik Oktasubadra 466