loader

Gandeng Ponpes, Tingkatkan Kemitraan UMKM dan Koperasi di Bidang Kelapa Sawit di Sumsel

Foto
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel Alex Sugiarto

PALEMBANG, GLOBALPLANET - DPW Apkasindo Sumatera Selatan (Sumsel) bekerja sama dengan Pondok Pesantren Al- Ittifaqiah Indralaya Sumsel menyelenggarakan Workshop Santripreneur Pemberdayaan Pondok Pesantren Di Perkebunan Sawit Melalui Kegiatan Pembibitan Kelapa Sawit di Hotel The Alts, Jumat (12/5/23).

Dalam sambutannya, Ketua DPW Sumsel H Slamet Sumosentono mengatakan Apkasindo Sumsel dibentuk pada tahun 2000 yang difasilitasi pemerintah Kementerian Pertanian Republik Indonesia sebagai wadah pemersatu petani kelapa sawit Indonesia. 

"Apkasindo tersebar di 22 Provinsi dan 144 Kabupaten Kota penghasil kelapa sawit di Indonesia di mulai dari Sabang sampai Merauke," katanya.

Kepengurusan DPD Apkasindo Sumsel juga telah membentuk dewan pimpinan daerah ada 13 Kabupaten Kota penghasil sawit yang ada di Sumsel. "Kabupaten Banyuasin, Muba, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Lahat, Pali, Muara Enim, Prabumulih, Ogan Ilir, Ogan Komering Ulu (OKU) , OKU Timur dan Selatan, Ogan Komering Ilir (OKI)," jelas Wakil Bupati Banyuasin ini. 

Dengan luas kebun sawit di Sumsel hampir 1,2 juta hektar dengan produksi sekitar 4.500.000 ton pada tahun 2021. "Program pengembangan potensi santripreneur berbasis UKMK sawit merupakan upaya kolaborasi untuk pemberdayaan pesantren dan industri kelapa sawit di Indonesia, pesantren sangat berpotensi bagi pengembangan kolaborasi dan kerjasama pengembangan usaha termasuk kelapa sawit," ungkapnya.

Pesantren berperan menggerakkan perekonomian daerah, dengan melibatkan 3 entitas yakni pemerintah baik pusat dan daerah, dunia usaha dan pesantren. "Kombinasi sangat penting sebab pesantren merupakan lembaga pendidikan dan pembentukan karakter di Indonesia, memiliki sekitar 28.000 pesantren dengan sekitar 18 juta orang terlibat didalamnya. Sementara sawit merupakan komoditas penting, sehingga dua hal penting ini bergabung kita berharap akan tercipta dampak positif," ujarnya.

Lanjutnya, kita mendorong pesantren yang berbasis sawit yang ikut serta workshop agar berperan dalam ilirisasi sawit usaha kecil menengah dan mendukung program presiden Jokowi yang menekankan pentingnya ilirisasi kelapa sawit. 

Harapan kegiatan workshop ini, sambung Slamet mengatakan akan meningkatkan kemitraan usaha kecil menengah dan koperasi di bidang kelapa sawit dengan berbagai pihak. "Dengan kegiatan ini diharapkan dapat menggerakkan potensi ekonomi pesantren dan melahirkan santripreneur yang berkarakter kuat mandiri dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar," pungkasnya.

Sementara itu, Wakil Gubernur Sumsel, Mawardi Yahya mengatakan kelapa sawit merupakan sumber daya alam kita untuk petani. Kepada para perusahaan kelapa sawit agar memberikan manfaat baik di bidang Ekonomi dan Sosial ditengah masyarakat.

"Tujuannya memberikan rasa aman itu sendiri kepada perusahaan kelapa sawit ini jika peduli dengan lingkungan sekitar sehingga dapat berproduksi dengan baik," katanya.

Lanjutnya, mudah - mudahan melalui workshop ini pesantren akan mampu penyerap dan memberikan peran dalam bidang - bidang tertentu tentunya dalam perusahaan di Sumsel. "Mudah - mudahan ini salah satu langkah," tutupnya.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia  (GAPKI) Sumsel Alex Sugiarto dalam sambutannya mengatakan, bahwa ini merupakan wujud nyata sebagai asosiasi Gapki dan Apkasindo bersinergi. "Memiliki visi dan misi yang sama, mengedepankan kemajuan dan menyuarakan kepentingan industri sawit, sama - sama berjuang dalam melawan isu negatif maupun kampanye hitam dan lainnya terkait isu - isu strategis lainnya di industri sawit yang berkembang saat ini," ujarnya.

Alex Sugiarto menjelaskan bahwa industri sawit merupakan industri strategis dan menjadi salah satu komoditas andalan pemerintah khususnya sebagai sumber pangan dan energi. "Indonesia menjadi produsen, konsumen sekaligus eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Sehingga peran industri sawit Indonesia dalam memenuhi kebutuhan dunia sangatlah penting, terlebih lagi untuk kebutuhan didalam negeri," ungkapnya.

Lanjut, industri sawit terus menghadapi tantangan khususnya terkait kampanye hitam negatif terhadap industri sawit Indonesia. "Berbagai strategi dan pendekatan perlu dilakukan secara terkoordinasi untuk menghilangkan kesalahan persepsi negatif tentang pengelolaan industri sawit Indonesia dimata dunia, oleh karena itu perlu menyamakan persepsi para stakeholder dalam hal ini petani, pelaku usaha, pemerintah, akademisi, dan lembaga swadaya masyarakat," jelasnya.

Sesuai dengan arahan bapak Wakil Presiden RI pada Munas dan pengukuhan kepengurusan Gapki pusat di Jakarta beberapa waktu lalu bahwa pentingnya langkah konkrit dalam penguatan internal industri sawit Nasional. 

"Poin yang diminta kepada Gapki yakni memperkuat kemitraan antara petani dan perusahaan, melakukan pendampingan dan bimbingan sertifikasi ISPO, mengoptimalkan program CSR, meningkatkan kepeloporan Gapki untuk pengembangan wilayah terpencil, serta pemberdayaan masyarakat perkebunan melalui kerjasama dengan Pondok Pesantren," katanya.

Masih kata Alex Sugiarto bahwa itu menjadi perhatian Gapki Sumsel untuk mendukung kegiatan workshop santripreneur pemberdayaan UMKM pondok pesantren di perkebunan kelapa sawit yang diselenggarakan oleh DPW Apkasindo Sumsel berkolaborasi dengan Pondok Pesantren Al- Ittifaqiah Indralaya Sumsel.

"Karena kegiatan ini salah satu upaya untuk menumbuhkan minat wirausaha santri pesantren dan merupakan fokus kami dalam menjalankan arahan wakil presiden dan sejalan dengan program kerja Gapki pusat kepengurusan 2023 - 2028," tukasnya.

Perkebunan sawit rakyat berperan penting dalam industri sawit Nasional. "Data statistik dinas perkebunan provinsi Sumsel tahun 2021 luas perkebunan sawit di Sumsel adalah 1,23 juta hektar dan sekitar 43 persen merupakan kebun milik masyarakat, baik plasma atau kemitraan maupun swadaya atau mandiri," tegasnya.

Salah satu tantangan perkebunan sawit rakyat adalah produktivitas yang masih relatif rendah. "Diangka 2,5 - 3 ton CPO per hektar pertahun dari standar yang diharapkan yakni 5 - 6 ton CPO per hektar pertahun. Hal ini disebabkan antara lain karena asal muasal benih bibit kelapa sawit tidak diketahui bersertifikat atau tidak, kurang konsisten dalam perawatan dan pemupukan," jelas Alex Sugiarto.

Oleh karenanya perlu perbaikan salah satunya dengan program replanting atau peremajaan sawit rakyat (PSR). "Program PSR merupakan salah satu fokus utama dari Program Gapki secara Nasional, dengan percepatan implementasi PSR maka akan menentukan peningkatan produktivitas dan produksi nasional tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani," ujarnya.

Sebelum mengakhiri kata sambutannya, Alex memberikan ucapan selamat dan sukses untuk kegiatan workshop santripreneur ini, "Semoga kegiatan berjalan lancar, sukses dan Bermanfaat bagi para peserta khususnya dan masyarakat yang terkait pada umumnya," pungkasnya.

Acara sendiri dihadiri juga, Staf Khusus Wakil Presiden RI Drs Muhammad Imam Aziz, pimpinan pondok pesantren Al- Ittifaqiah Indralaya Drs KH Mudrik Qori Ma, Ketua Forum Pondok Pesantren Sumsel KH Muhsin Salim, Ketua Panitia Acara Workshop HM Zain Ismed Mba, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel Ir Agus Darwa MSI, dan lainnya.

Acara sendiri dibuka secara resmi oleh Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya. 

Share