PALEMBANG, GLOBALPLANET - Menurutnya, bahwa isu itu bagaikan pembunuh massal yang tidak akan melihat siapapun korbanya. Perlu informasi akurat sehingga isu bisa di intervensi dengan baik.
"Sebagian besar informasi yang masuk di Indonesia disebarluaskan melalui media sosial. Isu itu alat pembunuh massal sering digunakan sebagai alat untuk mengawasi gerak-gerik masyarakat sipil, " ungkap Syawaluddin.
Salah satu isu yang selalu cepat direspon masyarakat adalah isu agama. Ia menyarankan agar masyarakat dapat menjernihkan emosi dan tidak terpancing.
Kemudian isu ekonomi yang menyerang komoditi Provinsi Sumsel, seperti salah satunya adalah kelapa sawit yang diserang oleh isu global oleh negara Eropa.
Banyak faktor kenapa isu tersebut yang selalu dimainkan Eropa, karena jika industri Kelapa Sawit menguasai pasar, maka mereka akan kesulitan mengatur negara berkembang yang bergantung dengan impor.
Meski aktifitas ekonomi domestik Indonesia ramai dan menyebabkan potensi impor juga tinggi. Hal tersebut tidak berpengaruh terhadap Sumsel.
"Menariknya, Ekonomi kita (Sumsel) tidak terlalu tergantung dengan import karena sudah memiliki modal kekuatan komoditi dan sosial ekonomi masyarakat yang ada, " ujarnya.
Sementara itu Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Sumarjono Saragih mengatakan Sumsel yang notabene-nya adalah wilayah zero konflik, sehingga minim sekali terjadinya perselisihan.
Lanjut dia, pada sektor ekonomi dan industri perkebunan, kendati terus diserang isu negatif dalam perspektif global, isu sustainability begitu menguntungkan pengusaha.
"Belakangan ini isu sustainability lebih banyak disuarakan Eropa, justru itu menjadi keuntungan kita sebagai pengusaha kelapa sawit. Setiap tahun isu yang menerpa kelapa sawit selalu berubah, tapi Apindo dan Gapki selalu bertahan melawan kampanye ini, " tutur dia.
Keuntungan ini menurutnya karena Indonesia khususnya Sumsel karena selama Pandemik sektor pertanian adalah sektor yang paling tangguh.











