PALEMBANG, GLOBALPLANET - Menurut Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Sumatra Selatan Rudi Arpian, mengatakan Penyakit tersebut sempat menyerang Perkebunan karet terbesar di Thailand Selatan tahun 2019 lalu tepatnya di 3 Distrik Narathiwat Provinsi Utama penghasil Karet Thailand.
Jika produksi karet Thailand terganggu akan mempengaruhi keseimbangan antara Supplay dan Demand terganggu ditengah permintaan Karet Alam. Yang berdampak kepada kurs rupiah.
"Ini akan berpengaruh dengan Rupiah Apalagi belakangan ini nilai tukarnya tertekan, kecuali jika rupiah sedang menguat sehingga harga akan berimbang. Tapi mudah-mudahan harga karet tetap condong stabil, " katanya, Rabu (2/12/2020).
Rudi menceritakan, di negara Gajah Putih tersebut wabah jamur terjadi akibat cuaca hujan sehingga kebun menjadi lembab dan badai yang terjadi di sana membuat spora jamur menyebar dan menyerang pohon karet.
"Di bulan Oktober tahun lalu (di Thailand) pohon-pohon telah menunjukkan gejala-gejala, tapi karena mungkin penanganan pemerintah setempat lambat jadinya jamur menyerang. Yang dikhawatirkan adalah spora jamur ini sifatnya cepat menyebar lewat udara jadi petani kita harus hati-hati, ditambah kita sekarang sedang musim hujan, " tegasnya.
Oleh sebab itu, ia mengimbau petani karet di Sumsel tetap waspada dengan penyebaran spora jamur mirip Pestalioptosis ini. Dengan menggunakan pupuk, pembersihan, dan pembuatan biopori.
Data statistik perkebunan 2019 menunjukkan Luas areal kebun karet Sumsel mencapai 1,311,442 Hektar. Dengan produksi 1,164,042 ton karet kering.
"Kuncinya pupuk, kemudian saya sarankan lakukan pembersihan lahan atau pembuatan lobang biopori di sekitar pohon sebagai penyubur tanah kalau mau yang lebih praktis, " tandas Rudi.











