Hadir pula perwakilan petani sawit dari berbagai negara antara lain Indonesia, Malaysia, Thailand, Papua New Guinea, Filipina, Sri Lanka, dan India.
Djono A. Burhan menyampaikan presentasi tentang prinsip-prinsip utama dari Praktik Baik Pertanian (GAP) dan sebuah video yang menunjukan cerita-cerita sukses petani-petani kecil kelapa sawit dari provinsi Riau sebagai daerah kebun kelapa sawit terluas di Indonesia.
Adzmi Hassan dari Asosiasi Nasional Petani Kecil Malaysia (NASH) dengan bangga memberi tahu para peserta tentang skema sertifikasi wajib yang ditanam di dalam negeri Malaysia yaitu Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) yang telah dibiayai oleh pemerintah untuk para petani kecil.
Sementara itu, Alcibiades Hinestroza menceritakan beberapa kisah sukses dalam praktik terbaik yang biasa diterapkan oleh petani kecil Kolombia. Salah satu hal yang disampaikan oleh CENIPALMA adalah sebuah alat bernama Index Keberlanjutan (Sustainability Index) dimana sebuah baseline dibentuk untuk membantu penerapan praktik baik di bidang pertanian.
Untuk menutup program tiga hari SOP 2, Tan Sri Datuk Dr. Yusof Basiron, Eksekutif Direktur CPOPC mengatakan bahwa petani kecil adalah tulang punggung dari rantai pasokan kelapa sawit karena tanpa mereka, rantai pasok dan dinamika ekonomi dari seluruh dunia akan terpengaruh.
Ia menambahkan bahwa CPOPC memainkan peran yang penting dalam memperbaiki kapasitas petani kecil dari banyaknya negara penghasil dan pembudidaya kelapa sawit serta meneruskan komitmen tersebut.











