loader

Menteri ESDM Dukung Penuh Proses Inovasi Bensin Sawit Berkualitas dan Ramah Lingkungan

Foto

Pengembangan integrasi industri sawit dalam negeri dari sektor hulu hingga hilir ini merupakan kerja sama ITB dan PT Pura Barutama, dengan pendanaan yang bersumber dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Sumber bahan baku demo plant berasal dari tandan buah sawit yang diutamakan dari program replanting kebun rakyat, yang untuk uji coba ini berasal dari Kabupaten Musi Banyuasin, yang merupakan program kerja sama antara Dinas Perkebunan dan Koperasi Pekebun Rakyat bersama dengan peneliti ITB dan BPDPKS.

Bahan baku tersebut diolah menjadi IVO pada pilot plant IVO. Tim Peneliti Teknik Kimia ITB bersama stakeholder terkait telah membangunnya di Kabupaten Musi Banyuasin sebagai bagian riset terintegrasi. Semuanya didanai oleh BPDPKS dengan kapasitas 6 ton IVO/Jam. Sebelumnya PT Pertamina (Persero) bersama ITB sudah berhasil memproduksi bioavtur 2,4% atau yang dinamakan Jet Avtur 2,4 (J2.4). Tidak berhenti di J2.4, Pertamina akan segera memproduksi bioavtur 5% atau J5.

Bahkan pemerintah pada 2019 juga telah meluncurkan Solar B30 untuk diimplementasikan secara serentak di seluruh Indonesia mulai 1 Januari 2020. Solar B30 merupakan pengembangan dari Solar B20 yang sebelumnya sudah disebarkan di berbagai stasiun pengisian bahan bakar (SPBU) di seluruh Indonesia. Pemerintah, melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), meracik biodiesel yang merupakan BBN untuk mesin diesel berupa ester metil asam lemak (fatty acid methyl ester/FAME) yang terbuat dari minyak nabati atau lemak hewani melalui proses esterifikasi/transesterifikasi.

Untuk saat ini, bahan baku biodiesel yang digunakan di Indonesia sebagian besar berasal dari minyak sawit (CPO). Selain dari CPO, tanaman lain yang berpotensi untuk bahan baku biodiesel, antara lain, tanaman jarak, jarak pagar, kemiri sunan, kemiri cina, nyamplung, dan lain-lain.

Solar B30 merupakan salah satu bentuk inovasi bahan bakar solar dengan perpaduan antara 70 persen minyak solar dengan 30 persen minyak nabati atau nama lainnya FAME. Saat ini solar yang ada sebelumnya di Indonesia masih di tahap pencampuran 20 persen FAME atau yang lebih dikenal dengan nama Solar B20, sesuai dengan SK Dirjen Migas nomor 28 tahun 2016.

Berbagai upaya riset, produksi dan pemakaian bahan bakar nabati ini merupakan wujud komitmen Indonesia untuk melaksanakan Perjanjian Paris dalam menurunkan karbon emisi dan mencapai net zero emisi pada 2060 atau penurunan emisi karbon 29% pada 2030.

Share