PALEMBANG, GLOBALPLANET - Kerap muncul pertanyaan masyarakat mengenai kejelasan proyek Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara. Baik asal muasal dana, progres maupun kelanjutan proyek setelah bergantinya rezim usai Pemilu 2024.
Proyek IKN terus - menerus banyak menuai polemik. Belum lama ini juga timbul masalah baru, salah satunya masalah anggaran. Terlebih, negara ini sedang dalam masa pemulihan pasca Pandemi Covid-19 yang sangat menggerus anggaran negara.
Seperti yang diketahui, anggaran untuk proyek ini tidaklah sedikit. Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa dana proyek pemindahan ibu kota ini diestimasikan menggunakan anggaran hingga Rp500 triliun.
Dana tersebut berasal dari berbagai sumber, salah satunya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menetapkan dari anggaran pembangunan ibu kota baru sekitar Rp466 triliun-Rp486 triliun hingga 2045 mendatang, APBN akan menanggung sekitar 19-20 persen.
Menjawab pertanyaan sumber pendanaan proyek IKN, Anggota Komisi XI DPR Bertu Merlas mengatakan bahwa sumber pendanaan proyek pembangunan IKN ini tidak hanya berasal dari APBN.
Bertu Merlas mengatakan bahwa sudah pasti terdapat keterlibatan pihak swasta dalam proyek pembangunan IKN sebagai pengembang wilayah seperti pembangunan fasilitas dan tempat tinggal di IKN nantinya.
Menurutnya, pada dasarnya pembangunan wilayah tidak mungkin disentuh oleh APBN, karena tersebut bukanlah ranah pemerintah. Namun ia menjelaskan bahwa dalam keterlibatan pihak swasta tersebut, pemerintah akan mendapatkan keuntungan berupa pajak pembangunan.
Selain itu, anggaran untuk proyek IKN ini tidak serta merta hanya mengandalkan APBN, akan tetapi juga bisa dengan memanfaatkan investasi swasta, BUMN, obligasi publik, dan sebagainya.
Terkait salah satu investor utama proyek IKN, SoftBank Group, mengundurkan diri untuk berinvestasi, Bertu Merlas mengatakan, “Sebetulnya munculnya investor asing itu baru baru ini aja, justru awalnya investor lokal diharapkan menjadi pengembang di sekitar wilayah IKN. Jadi, saya kira hal itu tidak akan menjadi masalah.”
Karena itu, Bertu Merlas menanganggap mundurnya investor utama bukanlah masalah yang besar dalam pembangunan proyek IKN. Dengan adanya kejadian tersebut, justru Bertu Merlas berharap investor lokal mampu menjadi pengembang wilayah dalam proyek IKN.
Investor lokal di Indonesia memiliki kapasitas yang mumpuni. Menurutnya, banyak pengembang lokal besar seperti misalnya Citraland, Lippo Group, Podomoro yang tidak kalah dengan pengembang internasional.











