Berita :: GLOBALPLANET.news

Wagub Sumsel Mawardi Yahya bersama Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Syafrial dan pihak terkait dalam apel kesiapsiagaan menghadapi bencana, di Griya Agung Palembang, Selasa (14/1/2020). (Foto: Rio Siregar)

14 Januari 2020 16:02:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Bencana yang berdampak kerusakan dan kerugian telah menimpa sejumlah wilayah Sumsel di awal tahun. Menghadapi puncak musim hujan yang diprediksi masih berlangsung mengharuskan peningkatan kesiapsiagaan dengan menyiagakan personel dan peralatan.

Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya mengatakan, pada awal tahun 2020 juga Sumsel sudah dilanda tiga bencana, dengan dampak yang cukup besar. Yaitu banjir bandang di Kabupaten Empat Lawang, Kota Pagaralam dan Kabupaten Lahat. 

"Banjir bandang yang terjadi meliputi 9 Kecamatan dan (5 Kecamatan ada di Kabupaten Lahat) serta meliputi 29 Desa. Dampak kejadian tersebut cukup besar dan mengakibatkan 3 unit jembatan putus/roboh 7 unit, rumah hanyut, 8 unit, rumah rusak berat 45 unit, rumah rusak ringan 702 unit dan rumah terendam 166 unit," ujarnya usai apel kesiapsiagaan personel dan peralatan di Griya Agung Palembang, Selasa (14/1/2020).

Apel dihadiri Kasdam II/Sriwijaya Brigjen TNI Syafrial, Danrem 044/Gapo Kolonel Inf Sonny Septiono, Kepala BPBD Sumsel H. Iriansyah, Karoops Polda Sumsel, Kadispers Lanud Palembang, Letkol Dondi Rinaldo dan Palaksa Lanal Palembang Mayor Laut Doli Iskandar.

Lanjut Mawardi, kondisi geografis Sumatera Selatan dengan dataran tinggi (Pegunungan) di bagian Barat seperti Pagaralam, Lahat, Muara Enim dan OKU Selatan, berpotensi terjadinya peristiwa alam seperti Gunung Meletus, Guguran Larva Panas, Gas Beracun/Belerang (Gunung Dempo) yang merupakan gunung api aktip, Tanah Longsor, Banjir Bandang dan Angin Puting Beliung.

Sementara di bagian timur yang merupakan dataran rendah dan perairan seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan Palembang, mempunyai potensi terjadinya potensi banjir akibat luapan air sungai dan menimbulkan genangan yang dipengaruhi oleh musim hujan dan pasang air laut, abrasi pantai. Selain itu juga pada daerah yang lebih terbuka dapat terjadi angin puting beliung.

"Untuk itu, sebagai salah satu bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana, kita melaksanakan apel kesiapsiagaan personsl dan peralatan, dengan kesiapan tersebut tentunya akan lebih siap dan lebih cepat untuk dimobilisasi kewilayah rawan atau berpotensi terjadi bencana, sehingga kerugian harta benda dan jiwa dapat dihindari atau ditekan sekecil mungkin," katanya.

Tahun Lalu Sumsel Dilanda Ratusan Bencana

Sementara berdasarkan data, pada tahun 2019 di wilayah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) tercatat terjadi bencana sebanyak 188 kali kejadian bencana, yang terbanyak adalah kebakaran rumah penduduk sebanyak 116 kali. 

Hal ini disampaikan Wakil Gubernur Sumsel Mawardi Yahya usai melaknasakan Gegiatan Apel Pelaksanaan Kesiapsiagaan Personil dan Peralatan Penanggulangan Banjir dan Tanah Longsor Sumatera Selatan. "Bencana yang lainnya seperti banjir, angin puting beliung, banjir bandang, kecelakaan perahu," katanya.

Dari 118 Kejadian bencana tersebut mengakibatkan rumah terendam sebanyak 9.613 unit, rumah terbakar sebanyak 367 unit, rumah roboh dan rusak berat sebanyak 141 unit, jembatan putus/rusak sebanyak 23 unit, sawah terendam 1.662, 5 ha dan perkebunan terendam sebanyak 1.000 ha.

Reporter : Rio Siregar Editor : Zul Mulkan 89