Berita :: GLOBALPLANET.news

Kapolres Muba AKBP Erlin Tangjaya didampingi Kasat Reskrim AKP Ali Rojikin saat meminta keterangan pelaku Sutarwan terkait aksi perampokan yang selama ini dilakukan. (Foto: A Diansyah).

27 Februari 2021 06:38:00 WIB

MUBA, GLOBALPLANET - Sat Reskrim Polres Musi Banyuasin (Muba) berhasil menangkap Sutarwan (41) satu dari 12 pelaku perampokan di Desa Sido Mulyo, Kecamatan Tungkal Jaya, Kabupaten Musi Banyuasin pada September 2012 silam.

Pelaku Sutarwan dan komplotannya yang dikenal sadis ini tidak hanya merampok di wilayah Sumatera Selatan, namun juga pernah beraksi di Lampung, Jambi dan Bengkulu

Berikut sejumlah fakta penangkapan Sutarwan yang dilakukan Sat Reskrim Polres Muba

1. Komplotan rampok spesialis dobrak pintu

Kapolres Muba AKBP Erlin Tangjaya mengatakan, Sutarwan dan komplotannya merupakan pemain lawas dan spesialis dobrak pintu rumah korban.

"Pelaku dan komplotannya spesialis dobrak pintu. Jadi, saat melakukan aksi, pintu rumah korban di dobrak memakai kayu, lalu pelaku dan komplotannya masuk ke dalam rumah dengan menodongkan senjata api kepada korban," ujar Erlin didampingi Kasat Reskrim AKP Ali Rojikin.

2. Tidak segan menembak mati korban

Dalam aksinya, sambung Erlin, pelaku Sutarwan dan komplotannya selalu dibekali senjata api untuk setiap orang. Bahkan para pelaku tidak segan menembak korban hingga mati.

"Pelaku ini terkenal sadis dan memang sudah lama menjadi incaran kita. Mereka tidak segan-segan menembak mati korbannya jika melawan. Salah satunya terjadi di OKU Timur, disana pelaku menembak mati korbannya saat hendak menyelamatkan diri," jelas dia.

3. Berperan menjadi pembunuh bayaran

Selain melakukan perampokan, pelaku dan komplotannya juga berperan menjadi pembunuh bayaran. Itu terbukti dari salah satu tindak pidana di OKI. dimana seorang sopir travel tewas dibunuh.

"Ya, saat itu pelaku dan komplotannya diminta membunuh seorang sopir travel. Namun, saat eksekusi pelaku dan komplotannya salah sasaran dan membunuh sopir travel yang lain. Dalam aksi itu, upah yang diterima dua kali pertama Rp 1 juta setelah eksekusi diberi Rp 10 juta," lanjut dia.

4. Tercatat ada 9 laporan tindak pidana

Dari data yang ada, pelaku dan komplotannya tercatat memiliki sembilan laporan tindak pidana yang berada di Kabupaten Musi Banyuasin, OKI dan OKU Timur.

"Ada sembilan laporan, yakni 2 laporan di Polsek Bayung Lencir, 3 laporan di Polsek Sungai Lilin, dan 3 laporan di Polres OKI, serta OKU Timur, itu aksi yang diketahui. Belum ditambah dengan aksi-aksi tindak pidana lain yang tidak diketahui," kata dia.

5. Selalu gunakan senjata api

Setiap beraksi, pelaku Sutarwan dan komplotannya masing-masing selalu dibekali dengan senjata api. Senajata api itu didapatkan dari berbagai temlat, salah satunya hasil pemesanan di daerah Bandung Jawa Barat.

"Pelaku ini sudah memiliki jaringan yang luas, setiap beraksi di satu wilayah dengan orang berbeda. Nah, orang yang mengajak beraksi memiliki kewajiban menyiapkan senjata api," lanjut Erlin.

"Mereka senang beraksi disekitaran jalan lintas, karena selalu berhasil meloloskan diri," ucap dia.

6. Kejar 8 pelaku lainnya

Dengan tertangkapnya pelaku Sutarwan saat berada di persembunyian di Kabupaten Pematang Siantar Sumatera Utara, lanjut Erlin, masih terdapat 8 pelaku lagi yang saat ini masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Sebab, tiga pelaku lain telah ditangkap terlebih dahulu yakni Dwi Winarno dan Andi Prihariyanto masing-masing divonis 12 tahun penjara, lalu Walang yang ditembak mati pada November 2020 lalu.

"Masih ada 8 pelaku lagi yang saat ini berstatus DPO. Saya imbau kepada para pelaku yang masih belum tertangkap agar segera menyerahkan diri ke pihak yang berwajib, Jika tidak Ingin Press Release di kamar jenazah," tegas dia.

7. Uang hasil rapokan untuk foya-foya

Sementara, pelaku Sutarwan mengaku, uang hasil rampokan yang selama ini didapat oleh dirinya selalu digunakan untuk foya-foya, mabuk dan menggunakan narkoba. "Hasil rampokan untuk senang-senang dan narkoba," ucap dia.

8. Selalu berpindah tempat sembunyi dan gunakan nama samaran

Dikatakan Sutarwan, usai melakukan aksi perampokan, dirinya dan pelaku lain langsung berpisah. Agar tidak tertangkap oleh pihak kepolisian, dirinya selalu berpindah-pindah tempat persembunyian.

"Saya pindah-pindah pak, pernah sembunyi di OKI, lalu ke Lampung, terakhir saya sembunyi di Pematang Siantar. Disana saya dikenal dengan nama Bintang, karena teman-teman selalu panggil pakai nama itu," beber dia.

9. Minta anggota komplotan serahkan diri

Dalam kesempatan itu, pelaku Sutarwann meminta seluruh anggota komplotannya yang saat ini masih dalam pengejaran pihak kepolisian untuk menyerahkan diri dan jangan sampai mengalami nasib seperti dirinya dan Walang yang ditembak mati.

"Untuk teman-teman, saya imbau agar menyerahkan diri. Jangan sampai seperti saya. Saya benar-benar tobat pak, sudah lama tidak beraksi lagi," tandas dia.

Reporter : Amarullah Diansyah Editor : M.Rohali 1349