Berita :: GLOBALPLANET.news

Ilustrasi: Ist

29 Agustus 2021 10:51:00 WIB

JAKARTA, GLOBALPLANET - Dikatakan Petrus Gunarso yang saat ini menjadi tim ahli di Kementerian Perdagangan, upaya peningkatan standar berkelanjutan terus dilakukan pihak Uni Eropa. Setelah produk sawit untuk bahan bakar baru dan terbarukan yang terkena kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II, dimana dalam kebijakan itu berupaya mengelurakan biodiesel sawit dari sumber energi di Uni Eropa tahun 2030.

Saat ini kebijakan keberlanjutan itu akan diperluas, kini penguatan standar berkelanjutan pun akan dilakukan untuk minyak sawit yang di ekspor untuk bahan baku makanan di Uni Eropa. “Akan ada namanya kebijakan EU Green Deal, yanga akan menuntut semua produk termasuk makanan harus memenuhi standar berkelanjutan yang ditetapkan Uni Eropa,” kata Petrus Gunarso, dalam webinar seprti dikutip dari InfoSAWIT, Jumat (27/8/2021).

Sebelumnya, merujuk informasi dari weforum.org, hampir dua tahun setelah Komisi Eropa meluncurkan Kesepakatan European Green Deal pada Desember 2019, lanskap UE telah sangat berubah, dengan pandemi COVID-19 menyebabkan terjadinya kontraksi PDB kawasan tersebut sebesar 6,1% pada tahun 2020. Namun ketika negara-negara melanjutkan kampanye vaksinasi dan fokus pada pemulihan ekonomi, ada harapan perekonomian kawasan tersebut kembali membaik. IMF memproyeksikan bahwa PDB Eropa pada tahun 2022 dapat kembali ke tingkat sebelum pandemi.

Kesepakatan The European Green Deal(Uni Eropa Hijau) memiliki potensi untuk memainkan peran kunci tidak hanya dalam memastikan pemulihan ini dalam jangka pendek tetapi juga dalam mengatasi ancaman perubahan iklim jangka panjang. Peluncuran paket "Fit for 55" belum lama ini diharapkan menandai langkah penting dalam merombak kebijakan iklim dan memungkinkan UE untuk memenuhi komitmennya untuk mengurangi emisi sebesar 55% pada tahun 2030.

Tercatat fokus European Green Deal, mencakup delapan bidang kebijakan - keanekaragaman hayati, sistem pangan berkelanjutan, pertanian berkelanjutan, energi bersih, industri berkelanjutan, pembangunan dan renovasi, mobilitas berkelanjutan, penghapusan polusi dan aksi iklim - kesepakatan tersebut merupakan upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meninjau lebih dari 50 undang-undang Eropa dan mendesain ulang publik kebijakan.

Kesepakatan itu bertujuan untuk mencapai tiga tujuan utama, pertama, fokus pada pencapaian emisi nol bersih dengan mengusulkan strategi khusus yang dapat membantu mereduski emisi di semua sektor, dengan fokus utama pada energi, yang merupakan lebih dari 75% dari total gas rumah kaca UE-27. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dalam bauran energi UE.

Kedua, Uni Eropa berencana untuk memisahkan pertumbuhan dari eksploitasi sumber daya. Sementara pengurangan emisi telah dicapai dalam dekade terakhir, Eropa tetap menjadi salah satu kontributor utama konsumsi sumber daya di dunia. Digambarkan sebagai “generation-defining task,” mencapai tujuan ini tidak hanya membutuhkan dorongan dalam kemajuan teknologi tetapi juga memikirkan kembali gaya hidup, komunitas, dan masyarakat.

Ketiga adalah kebutuhan untuk mendorong transisi hijau yang inklusif dan tidak meninggalkan siapa pun, didukung melalui Mekanisme Transisi yang Adil, yang akan menyediakan antara 65€ dan 75€ miliar selama periode 2021-2027 untuk mengurangi dampak sosial-ekonomi dari transisi. 

Reporter : globalplanet Editor : M.Rohali 166