loader

GAPKI: Perempuan Menjadi Bagian Penting Industri Sawit Indonesia

Foto
Ketua GAPKI Bidang Ketenagakerjaan Sumarjono Saragih, dalam webinar Bincang Dua Puluh bersama Harian Kompas dan GAPKI"Perempuan Hebat, Industri Sawit Kuat"

“Sering dilupakan bahwa sawit kita dimiliki 42% petani. Selebihnya 58% milik perusahaan. Melibatkan lebih 16 juta pekerja dan 2 juta petani. Struktur kepemilikan yang demikian menjadi tantangan sendiri dalam upaya perlindungan perempuan sawit,” jelasnya.

Lanjut Sumarjono, bahwa GAPKI hanya organisasi pengusaha, tetapi GAPKI punya hasrat besar memajukan sawit. “Kami sadar tidak punya otoritas yang cukup, tidak punya hak mengatur apalagi menghukum. Pilihannya adalah, gerakan, inisiatif dan aksi untuk promosi dan implementasi praktek baik,” tegasnya.

Dalam banyak hal, GAPKI sering dianggap paling bertanggung jawab. Menurutnya itu realita dan wajar. Karena GAPKI merupakan organiasasi besar dengan anggota perusahaan, maka tanggung jawab juga besar.

“Kami berusaha memikul tanggung jawab itu, kami mencoba menggerakkan sumber daya yang kami miliki. Dengan harapan menjadi lokomotif perubahan yang memberi dampak besar,” tambahnya.

Aspek perempuan menjadi salah satu yang mendesak. Senada dengan studi ILO 2015. Aspek perempuan memiliki dimensi yang luas. Oleh karena itu, GAPKI mencoba sebuah langkah dengan menerbitkan buku sebagai bahan kampanye dan panduan praktis yang diberi judul PANDUAN PRAKTIS PERLINGUNGAN HAK PEKERJA PEREMPUAN DI PERKEBUNAN SAWIT.

“Buku ini adalah panduan perlindungan hak-hak pekerja perempuan di perkebunan sawit,” ungakapnya.

Ini bukan buku ajaib untuk menyelesaikan persoalan, tapi bisa jadi inspirasi karena kami susun bersama serikat buruh lokal dan juga yang terafiliasi global," ujarnya.

Dengan demikian, dia mengklaim sudah membuktikan bahwa pengusaha miliki hasrat besar untuk memajukan industri sawit, termasuk para buruh perempuan.

Dia menambahkan, pihaknya cuma memiliki tiga pilihan dalam mendorong kesetaraan dan kesejahteraan pekerja, yakni melalui gerakan, inisiatif, dan aksi.

"Tiga kata ini menjadi kata kunci yang kami ambil, meski dalam banyak hal, Gapki itu dianggap paling bertanggung jawab.

Buku ini disusun dengan menggandeng serikat buruh lokal Hukatan. Strategi ini kita lakukan karena Hukatan memiliki afiliasi dengan serikat buruh Belanda CNV Internasional. Jejaring yang demikian ini kita perlukan supaya memiliki cakupan publikasi global.

Buku ini sudah dilaunching bulan maret 2021 oleh Menteri Tenaga Kerja dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kedua Menteri tersebut memberi apresiasi atas inisiatif yang kita lakukan.

 

 

 

 

Share