Berita :: GLOBALPLANET.news

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Palembang dr Zulkhair Ali. (Foto: Rachmad Kurniawan)

02 Juni 2020 07:54:00 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyarankan Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang untuk memperpanjang PSBB dengan alasan Kota Palembang belum memenuhi syarat memberlakukan new normal. Masih banyak yang harus dikaji terutama masih tingginya kasus positif dan aspek kesehatan lainnya.

Diketahui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap 1 di Kota Palembang akan selesai 2 Juni 2020, hari ini. "Kami hanya menyampaikan dari sisi kesehatan, apa dampak apabila peraturan PSBB ini dilanggar dan kemungkinan PSBB dilanjutkan. Sebab dalam pemberlakuan new normal ada persyaratan yang harus  terpenuhi dulu kalau tidak mau ini jadi malapetaka," ujar Ketua IDI Palembang dr Zulkhair Ali, Senin (1/6/2020).

Seperti yang diketahui saat ini, kasus positif Covid-19 di Palembang mencapai 500 lebih atau yang tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan. Dan belum ada titik terang kapan penambahan terhenti, mengingat kasus baru terus ditemukan hampir setiap hari.

Zulkhair melanjutkan, syarat tersebut yakni, pertama, tingkat penularan corona reproductive time (Rt) atau reproduksi efektif di suatu wilayah harus di bawah 1 persen. 

Artinya tidak ada lagi penularan virus corona antar manusia di satu wilayah yang bakal menerapkan new normal. Terhitung selama 14 hari sejak tak ada lagi laporan kasus Covid-19 baru.

"Kedua, kesiapan sistem kesehatan. New normal akan berlaku jika kapasitas dan adaptasi sistem kesehatan di Indonesia sudah mendukung untuk pelayanan COVID-19 yang bukan tidak mungkin akan naik jika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilonggarkan," jelasnya.

Kemudian syarat ketiga yakni, jumlah tes atau surveillance. Kemampuan pemerintah untuk mengambil sampel untuk diuji, bisa memenuhi target periksa laboratorium dengan kapasitas 10-12 ribu sampel per hari.

"Palembang dan wilayah yang masih zona merah belum memenuhi kriteria ini. Jika salah langkah, kebijakan New normal bisa menjadi boomerang yang dampaknya itu berat sekali," tegasnya.

Oleh karena itu, pihaknya meminta agar pemerintah dapat benar-benar memperhatikan syarat pemberlakuan new normal khususnya dari segi kesehatan. Terlebih sekarang rumah sakit rujukan didominasi oleh pasien-pasien Covid-19.

Di sisi lain, menurutnya, saat ini masih minim kesadaran dan kepatuhan dari masyarakat untuk menerapkan prosedur kesehatan pencegahan penularan Covid-19. Apalagi pemberlakukan sanksi PSBB yang dinilai belum memberikan dampak signifikan. 

"Kita juga perlu berkaca dari negara-negara lain yang terlalu cepat membebaskan kondisi ini hingga akhirnya terjadi gelombang kedua. Bahkan saya baca kemarin, Korea Selatan saja disebut sedang memasuki gelombang Kedua. Padahal sebelumnya mereka sudah tenang," tuturnya

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : Zul Mulkan 282