loader

Ganoderma Jadi Ancaman Serius Bagi Pekebun Sawit

Foto
Sawit yang diserang Ganoderma

BPI mengingatkan pentingnya kesadaran dan upaya maksimal dari pekebun sawit dalam mengendalikan Ganoderma. Pengendalian harus dimulai dari awal pembukaan lahan, pembibitan, penanaman dan perawatan dengan mengikuti standar best management practices. 

Hal ini dikarenakan Ganoderma sudah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat sawit, khususnya yang lahannya sudah termasuk katagori endemik Ganoderma. 

Bagaimana tidak menakutkan, jamur Ganoderma ini telah membuat pohon tumbang satu per satu akibat penyakit Busuk Pangkal Batang yang ditimbulkannya dan ini tentu akan memporak porandakan harapan masa depan yang seharusnya bisa menjadi “ATM” yang produktif bagi para pekebun sawit apabila tanamannya sehat dan cukup populasinya.

Kita harus belajar dari propinsi Sumatera Utara, dimana tanah kelas I saja saat ini serangan Ganoderma nya sudah luar biasa besar, bahkan sudah menyerang  pada tanaman muda. 

Oleh karena itu para pekebun sawit dari Muba yang kelas lahannya kelas II dan III harus lebih waspada saat penanaman ulang yaitu dengan mengikuti standar budidaya terbaik dan mengutamakan pengendalian Ganoderma. 

Pada Permentan Nomor 7 tahun 2019 yang memuat ketentuan replanting juga telah diwajibkan untuk menggunakan agensia hayati sebagai biokontrol Ganoderma dalam proses tanam ulang atau replanting dan pembukaan lahannya mengikuti standar best management practices.

Ganoderma kalau tidak dikendalikan secara terprogram dan komprehensif akan menjadi bencana bagi perkebunan sawit khususnya di Muba, pada saat ini mungkin baru terjadi infeksi di sebagian kecil blok kebun, walaupun sedikit jangan dianggap sepele  tapi harus dikendalikan. 

Kematian rata-rata 10 pokok per ha saja akibat Ganoderma apabila produksi per pokok per tahun 200 kg dan  harga TBS Rp 2500,- per kg, maka kerugian KUD yang luasnya 2000 ha akan mencapai 10 milyar setiap tahun dan kerugian ini berpotensi terus bertambah apabila Ganoderma tidak dapat dikendalikan akibat terus berkurangnya populasi tanaman.

Share