Berita :: GLOBALPLANET.news

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan, (Foto: Dok, Rachmad Kurniawan)

14 Februari 2020 14:19:46 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Sebagai tindak lanjut dari komitmen menekan konflik dengan satwa liar melalui lokakarya beberapa hari lalu, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Sumsel segera membentuk Tim Koordinasi Konflik Satwa dan manusia.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan, menuturkan usulan draf koordinasi dari berbagai pemangku kepentingan dan LSM tengah diusulkan ke Gubernur Sumsel untuk disetujui.

"Tim koordinasi itu untuk tingkat provinsi, sedangkan di kabupaten/kota namanya tim satgas, merekalah yang mengeksekusi kebijakan dari tim koordinasi," ujar Genman, Jumat (14/2/2020).

Menurutnya tim koordinasi kali ini dibentuk dengan tugas pokok yang lebih komprehensif terutama upaya pencegahan dan pendataan populasi satwa.

"Tim satgas dan koordinasi ini akan mendorong pencegahan konflik berbasis penyesuaian, seperti mengubah area pertanian - perkebunan yang kerap dilalui satwa harimau ataupun gajah agar wilayah itu tidak dilalui lagi," ungkapnya.

Lanjut Genman, misalnya kawanan gajah yang melalui kebun dimana kebun itu memang pakannya gajah, maka tanaman di kebun itu harus diganti dengan tanaman yang tidak disukai gajah. "Nah untuk mengubahnya ini butuh kebijakan pemangku kepentingan," imbuhnya

Berdasarkan Catatan BKSDA Sumsel selama 2017-2019, frekuensi konflik manusia dengan satwa (harimau, beruang, buaya dan gajah) terjadi 83 kali.

Frekuensi tertinggi diduduki buaya yang tercatat memiliki 37 konflik, dengan rincian yakni 2 kali berkonflik pada 2017, lalu 14 kali pada 2018 dan 21 kali pada 2019, sehingga total ada 37 kali konflik yang sebagian besar terjadi di Bangka Belitung dan sebagian kecil di Sumatera Selatan.

Kedua barulah harimau yang tercatat 23 kali berkonflik di Kabupaten Lahat, Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU), Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin Empat Lawang dan Kota Pagaralam dengan catatan bahwa pada 2017 serta 2018 frekuensi konflik tidak ada.

Kemudian konflik dengan beruang tercatat 0 kali pada 2017, 1 kali pada 2018 dan 9 kali pada 2019, sehingga total ada 10 kali konflik yang umumnya terjadi di sekitar Bukit Barisan.

Sementara untuk Gajah Sumatera tercatat 4 kali pada 2017, 3 kali pada 2018 dan 6 kali pada 2019, jadi totalnya 13 kali, umumnya terjadi di OKU Selatan, OKI dan Banyuasin.

"Selain pencegahan konflik, tim juga diharapkan dapat mengidentifikasi populasi habitat satwa yang ada di Wilayah Sumsel sebagai data acuan konservasi, terutama satwa dilindungi seperti gajah dan harimau. Saat ini populasi harimau ada 17 ekor dan gajah 192 ekor tersebar di Sumsel," tutup Genman.

Reporter : Rachmad Kurniawan Editor : M.Rohali 46