Berita :: GLOBALPLANET.news

Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Dr Tungkot Sipayung. (Foto: M Rohali/GPN)

14 Februari 2020 16:59:34 WIB

PALEMBANG, GLOBALPLANET - Program peremajaan sawit rakyat (PSR) atau replanting yang sudah digalakkan Presiden Joko Widodo beberapa tahun terakhir ini di seluruh Indonesia disambut hangat oleh para petani sawit.

Program tersebut disambut hangat karena petani sawit akan mendapatkan benih sawit yang baik dan akan mendapatkan bantuan dari pemerintah sebesar Rp 25 juta per hektar.

Namun di mata pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Dr Tungkot Sipayung, replanting tidak sekedar pergantian tanaman sawit usia tua ke usia muda.

"Replanting adalah masa panen, baik panen di kalangan petani sawit maupun panen di kalangan industri perbenihan dan panen bagi pihak lainnya," ujar Dr Tungkot Sipayung saat menjadi pemateri di seminar Andalas Forum II di Hotel Harper Palembang, Jumat (15/2/2020).

Hal itu diungkapkannya saat menjadi pembicara dalam Andalas Forum II di Hotel Harper, Palembang, Jumat (14/2/2020) sore. Tungkot Sipayung berbicara dengan membawa tema berjudul "Peremajaan dan Biofuel".

Tubgkot menegaskan, replanting bisa meningkatkan penghasilan. Replanting adalah masa untuk memanen ekonomi baru. Kita bisa mendapatkan gula merah dari sawit yang diremajakan," kata Tungkot.

Replanting juga membuat batang sawit yang telah ditebang bisa menjadi kayu berbahan sawit, seperti untuk fiurniture, dan lainnya.

Selain itu, ujar Tungkot, bila pohon sawit sudah ditebang, maka sebelum ditanam bibit sawit yang baru, maka lahan yang ada bisa ditanami tanaman sela, seperti sorgum, jagung, semangka, dan lainnya.

"Replanting juga menjaga keberlangsungan industri perbenihan atau pembibitan sawit. Dan tak lupa, replanting juga memastikan sustainibility atau keberlanjutan sawit itu sendiri," tegas Tungkot Sipayung.

Reporter : Hendrik Hutabarat Editor : M.Rohali 133