loader

Kombinasi Pandemi - Banjir Thailand Jadi Peluang Bagi Karet Sumsel

Foto

PALEMBANG, GLOBALPLANET. - Banjir besar telah mengganggu kegiatan penyadapan di provinsi tersebut karena petani karet tidak dapat menyadap pohon karet karena sebagian pohonnya terendam air. Ini akan mempengaruhi produksi Karet Alam di wilayah ini dalam beberapa minggu mendatang.

Kombinasi dari pandemi corona, Penyakit Gugur Daun Pestalotiopsis (PGDP) dan banjir parah akibat hujan lebat di Provinsi utama adalah Nakhon Si Thammarat, Narathiwat, Phattalung, Songkhla dan daerah sekitarnya, meliputi sekitar 0,8 juta hektar perkebunan karet alam, membuat keadaan jadi makin sulit bagi pemerintah Thailand. 

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sumsel Fakhrurozi Rais melalui Kabid Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Sumatra Selatan Rudi Arpian mengatakan, berdasarkan varibel permintaan dan penawaran, seharusnya harga karet di Bulan Desember ini stabil karena tingkat permintaan dan suplai cenderung stagnan atau atau ada keseimbangan baru.  

"Ini dibuktikan dengan catatan harga yang dikeluarkan Gapkindo Sumsel di bulan Nopember, rata rata stabil di harga Rp18 ribuan untuk karet KKK 100%, Akan tetapi kenyataannya harga karet di bulan Desember cenderung naik," ungkap Rudi, Sabtu (5/12/2020). 

Hal tersebut menunjukkan bahwa ada faktor lain yang dapat  mempengaruhi harga karet di pasar internasional. Seringkali faktor tidak langsung lebih dominan mempengaruhi harga dibanding faktor langsungnya sendiri.

Setelah sempat Stagnan di harga Rp18.447,5 di bulan November 2020, kenaikan harga sudah terlihat pada minggu pertama di bulan Desember rata rata Rp 19.631 untuk KKK 100%. Bahkan harga karet sempat menyentuh angka Rp20.170 per kilogram di tanggal 3 Desember 2020.

"Harga memang terus berfluktuasi tetapi ada kemungkinan trennya menguat karena bencana banjir di Thailand bisa menyebabkan suplai karet terganggu dari negara itu," jelasnya. 

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga karet di Sumatera Selatan  antara lain Pertumbuhan Ekonomi Dunia, Kondisi Pasar Otomotif,  Harga Minyak Mentah Dunia, Spekulan Pasar Karet Alam, serta Faktor iklim dan gangguan kondisi alam lainnya turut berpengaruh terhadap supply karet alam global dan yang terakhir Kurs Valas di pasar Internasional harga komoditas memiliki hubungan dengan kurs currency regional terhadap US dolar. 

Apalagi lanjut Rudi, pasokan dari Thailand, Indonesia dan Malaysia yang merupakan produsen terbesar dunia masih tetap bersaing ketat karena produksi yang sedikit akibat faktor cuaca.

Rudi mengharapkan petani karet Sumsel dapat memanfaatkan momentum ini untuk memperbaiki mutu bokar dengan menghasilkan Bokar Bersih

"UPPB menjadi salah satu pilihan tepat bagi kelompok tani karet sebagai sarana bagi petani untuk meningkatkan mutu karetnya. 
UPPB mampu menaikkan harga jual hasil bahan olahan karet rakyat (Bokar) antara Rp3.000 sampai Rp4.000 perkilogram, jika dibandingkan dengan harga di pengumpul," tutupnya. 

Share

Ads